Hujan Guyur Surabaya di Tengah Kemarau, BMKG Beberkan Pemicu Dinamika Atmosfer

Sirkulasi siklonik dan aktivitas Gelombang Kelvin mendukung pertumbuhan awan hujan. BMKG Juanda memperkirakan hujan ringan meluas di 31 kecamatan Surabaya, meski awal musim hujan diprakirakan baru tiba pada Desember 2026.

SURABAYA — Setelah beberapa waktu dilanda cuaca panas dan terik, sejumlah wilayah di Surabaya akhirnya diguyur hujan pada Senin (26/10/2026) malam. Fenomena ini menarik perhatian, sebab Jawa Timur secara klimatologis masih berada dalam periode musim kemarau. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda pun membeberkan sejumlah faktor dinamika atmosfer yang membuat hujan kembali turun di Kota Pahlawan.

BMKG Juanda menjelaskan bahwa hujan dipicu oleh kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan konvektif. Sejumlah faktor yang teridentifikasi antara lain sirkulasi siklonik di sekitar Kalimantan Barat, pertemuan massa udara (konvergensi), serta aktivitas Gelombang Kelvin yang melintasi wilayah Jawa Timur. Sirkulasi siklonik ini memengaruhi pola pergerakan angin di sekitarnya dan mendukung terbentuknya zona konvergensi, yakni area tempat aliran udara bertemu dan memusat.

Pertemuan angin tersebut mendorong massa udara lembap naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Saat mengalami pendinginan, uap air tersebut mengalami kondensasi dan membentuk awan. Didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin yang membawa dinamika berskala luas, awan-awan ini berkembang menjadi awan konvektif yang menghasilkan hujan. Kendati demikian, intensitas dan sebaran hujan tidak bisa dilepaskan dari interaksi berbagai unsur atmosfer, termasuk kelembapan udara dan kondisi topografi lokal.

Kondisi ini menjelaskan mengapa hujan masih sangat mungkin terjadi di tengah musim kemarau. Kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali, melainkan gambaran pola curah hujan dalam periode yang lebih panjang. BMKG Juanda sendiri memperkirakan Surabaya baru akan memasuki awal musim hujan pada dasarian pertama Desember 2026. Oleh karena itu, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum bisa disimpulkan sebagai tanda dimulainya musim hujan.

Terkait prakiraan harian, BMKG Juanda memperkirakan seluruh 31 kecamatan di Kota Surabaya berpotensi mengalami hujan ringan pada Selasa (27/10/2026). Suhu udara diperkirakan berkisar antara 25 hingga 32 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan mencapai 57 hingga 94 persen. Meski prakiraan ini menunjukkan potensi hujan yang lebih luas, masyarakat tetap perlu memahami bahwa estimasi cuaca bisa berbeda dengan kondisi aktual di masing-masing wilayah.

Bagi masyarakat, perubahan cuaca yang cepat ini menjadi pengingat untuk selalu waspada. Warga yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menyiapkan payung atau jas hujan. Saat hujan disertai petir dan angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon dan kurangi kecepatan saat berkendara karena jalanan menjadi licin. Selain itu, perhatikan potensi genangan air di titik-titik rawan, terutama jika hujan turun dengan durasi yang cukup lama.

Peristiwa cuaca di akhir Oktober ini menunjukkan bahwa dinamika atmosfer harian kerap tidak sejalan dengan pola musim secara keseluruhan. Bagi masyarakat, memantau pembaruan informasi resmi dari BMKG menjadi langkah paling bijak. Sementara bagi pemerintah daerah, data meteorologi ini menjadi dasar penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mulai dari mengantisipasi genangan hingga mengedukasi warga terhadap potensi cuaca ekstrem.

TABIR LENTERA NUSANTARA — Menyibak Fakta, Menjaga Negeri.

Penulis: Edy/BgsEditor: MT.SARI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top