SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menghadirkan ruang spiritual bagi masyarakat melalui majelis Jawa Timur Bersholawat & Tabligh Akbar. Mengusung tema syukur atas 81 tahun perjalanan Provinsi Jawa Timur serta peringatan Hari Santri Nasional, kegiatan ini akan digelar pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB di Halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Majelis ini dirancang sebagai wujud rasa syukur atas capaian dan keberkahan yang telah diterima Bumi Majapahit, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya fondasi moral dan spiritual dalam pembangunan daerah. Sinergi antara pemerintah dan ulama menjadi salah satu pilar utama yang terus dijaga untuk merawat kerukunan serta memperkuat persatuan umat.
Kehadiran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, dan dai muda kondang Gus Iqdam dijadwalkan akan menambah kekhidmatan majelis. Gus Iqdam akan menyampaikan tausiyah yang menyentuh nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kepedulian sosial. Acara ini juga akan dimeriahkan penampilan spesial dari Hadrah Sab’ru Tauhid Bitar.
Untuk mendukung kelancaran acara dan mengantisipasi lonjakan volume kendaraan, Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur bersama Satlantas Polrestabes Surabaya telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan sekitar Gedung Negara Grahadi. Pengalihan arus akan diberlakukan secara situasional menyesuaikan kepadatan di lapangan. Kasubdit 1 Turjawali Polrestabes Surabaya, AKP Ibda Purwono, menyampaikan bahwa personel gabungan akan diterjunkan untuk mengatur arus dan menempatkan perangkat pengamanan seperti water barrier serta traffic cone di titik-titik rawan. “Arus dari Basuki Rahmat menuju Gubernur Suryo akan diluruskan ke Embong Malang, sementara arus dari Tunjungan menuju Gubernur Suryo akan diberlakukan sistem buka tutup situasional,” ujarnya. Pengalihan dan penataan parkir akan dilakukan lebih awal karena jemaah diperkirakan sudah berdatangan sebelum acara dimulai.
Adapun skema pengalihan arus yang disiapkan adalah sebagai berikut: kendaraan dari Jalan Basuki Rahmat melalui Basra Loop yang hendak menuju Jalan Gubernur Suryo diarahkan ke Jalan Embong Malang. Kendaraan yang menuju Jalan Taman Apsari melalui kawasan Joko Dolog dialihkan ke Jalan Embong Trengguli dan Jalan Panglima Sudirman. Pengalihan juga diterapkan di Simpang Pojok, di mana kendaraan dari Jalan Basuki Rahmat diarahkan melalui Jalan Embong Malang. Kendaraan dari Jalan Tunjungan yang hendak menuju Jalan Gubernur Suryo melalui putar balik Seiko dialihkan ke Jalan Embong Malang dan/atau Jalan Kenari. Sementara kendaraan dari Jalan Ketabang Kali dan Jalan Ngemplak yang menuju Jalan Simpang Dukuh diarahkan ke Jalan Genteng Kali. Dishub juga menyiapkan sistem contraflow di Jembatan Genteng Kali agar kendaraan dari Jalan Simpang Dukuh bisa langsung menuju Jalan Wali Kota Mustajab.
Selain rekayasa arus, Dishub Kota Surabaya dan kepolisian telah menyiapkan sejumlah kantong parkir terpadu yang dapat digunakan jemaah. Titik parkir difokuskan di kawasan depan Alun-Alun Surabaya, meliputi area OJK, Bank Danamon, dan Jalan Simpang Dukuh lajur kanan. Area Taman Tugu Pahlawan di depan Grahadi, serta kawasan Taman Surya depan Balai Kota hingga area sekitar McDonald’s dan Burger King, juga difungsikan sebagai lokasi parkir. Area sekitar Studio East dan bekas Simpang Dukuh hingga Alun-Alun Surabaya turut disiapkan.
Panitia mengumumkan bahwa kegiatan ini terbuka untuk umum. Demi menjaga ketertiban dan kekhidmatan acara, jemaah dilarang membawa bendera atau atribut dalam bentuk apa pun. Peserta diharapkan mengenakan pakaian dengan dress code bebas rapi. Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap doa bersama yang dipanjatkan dapat menjadi energi positif bagi pembangunan Jawa Timur yang lebih unggul dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, majelis selawat ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat gotong royong, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menanamkan nilai kepedulian terhadap sesama. Pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur semata, namun juga diukur dari kemampuan masyarakatnya untuk menjaga adab, merawat persaudaraan, serta menghadirkan keberkahan bagi seluruh lapisan warga Jawa Timur.
TABIR LENTERA NUSANTARA — Menyibak Fakta, Menjaga Negeri.






