Cak Aldo dan Ning Rara Terpilih sebagai Duta Wisata Surabaya 2026, Misi Anak Muda Membawa Potensi Lokal ke Panggung Nasional

Grand Final di Balai Kota Surabaya menandai awal tugas dua wajah baru promosi pariwisata. Tantangannya bukan sekadar memperkenalkan destinasi, melainkan menghubungkan kekayaan budaya, kreativitas generasi muda, dan ekonomi masyarakat agar memberi dampak nyata.

SURABAYA — Di tengah persaingan antardaerah dalam menarik wisatawan, kekayaan destinasi saja tidak selalu cukup. Sejarah perlu diceritakan, budaya harus diwariskan, dan potensi ekonomi lokal membutuhkan cara promosi yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Peran generasi muda menjadi salah satu bagian penting dalam upaya tersebut. Mereka memiliki ruang untuk mengemas identitas daerah melalui bahasa yang lebih dekat dengan publik, memanfaatkan platform digital, sekaligus membangun hubungan antara destinasi wisata dan masyarakat yang menghidupkannya.

Semangat itulah yang mengiringi penobatan Cak Aldo dari Kecamatan Tegalsari dan Ning Rara dari Kecamatan Gubeng sebagai Cak dan Ning Surabaya 2026. Keduanya terpilih dalam malam Grand Final Pemilihan Duta Wisata Kota Surabaya yang berlangsung di halaman Balai Kota Surabaya, Sabtu (10/10/2026) malam. Penobatan tersebut menjadi puncak dari rangkaian seleksi para finalis. Namun, bagi dua pemenang, malam itu sekaligus membuka babak baru: membawa gagasan tentang Surabaya kepada masyarakat yang lebih luas dan membuktikan bahwa gelar duta wisata dapat diwujudkan melalui program yang berkelanjutan.

Grand Final berlangsung dengan dukungan keluarga finalis, masyarakat, dan pendukung dari berbagai wilayah. Penampilan pembuka, pertunjukan budaya, serta paparan gagasan para finalis mewarnai jalannya acara di halaman Balai Kota. Di balik kemeriahan panggung, kompetisi ini membawa pertanyaan yang lebih substantif: bagaimana anak muda dapat berkontribusi dalam memperkenalkan karakter sebuah kota, bukan hanya melalui penampilan, tetapi juga melalui pengetahuan dan kerja nyata?

Proses pemilihan melibatkan sejumlah tahapan, mulai dari seleksi awal, tes tertulis, pembekalan, semifinal, hingga malam puncak. Penilaian mencakup kepribadian, kemampuan berbicara di depan umum, penguasaan bahasa Inggris, wawasan seni dan budaya, pengetahuan pariwisata, serta etika. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa peran duta wisata membutuhkan lebih dari kemampuan tampil di hadapan publik. Seorang duta perlu memahami identitas daerah yang diwakilinya, mampu menyampaikan informasi secara tepat, dan menjalin komunikasi dengan beragam kalangan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Herry Purwadi, berharap inovasi yang dipaparkan para finalis di hadapan dewan juri dapat direalisasikan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Harapan itu menjadi penting karena gagasan yang berhenti pada tahap presentasi tidak akan menghasilkan perubahan. Diperlukan tindak lanjut, mitra pelaksana, dan sasaran yang jelas agar ide yang muncul selama kompetisi dapat berkembang menjadi kegiatan yang bisa dievaluasi hasilnya.

Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan jejak sejarah perjuangan, bangunan bersejarah, kehidupan kampung, kuliner, seni, serta dinamika masyarakat perkotaan. Kekayaan tersebut menyediakan banyak bahan untuk dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang lebih beragam. Tantangannya adalah menyampaikan potensi itu dengan cara yang relevan bagi generasi sekarang tanpa menghilangkan nilai sejarah dan konteks budayanya.

Promosi digital dapat menjadi pintu masuk. Video pendek, foto, peta digital, dan cerita berbasis lokasi bisa membantu masyarakat mengenal tempat-tempat yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Namun, promosi yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan konten menarik. Informasi harus akurat, akses pengunjung perlu jelas, dan pengalaman di lokasi harus sejalan dengan gambaran yang disampaikan.

Di sinilah duta wisata dapat mengambil peran sebagai penghubung. Mereka dapat bekerja bersama komunitas sejarah, pengelola destinasi, pelaku seni, kampung wisata, dan UMKM untuk memperkenalkan potensi yang memiliki nilai bagi pengunjung sekaligus masyarakat setempat. Pendekatan ini juga membuka peluang agar manfaat pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di destinasi yang sudah populer. Produk kuliner, kerajinan, pertunjukan seni, dan usaha lokal dapat memperoleh ruang promosi apabila dirangkul dalam program yang dirancang secara konsisten.

Pentingnya promosi daerah terlihat dari pergerakan pariwisata Indonesia. Data Badan Pusat Statistik mencatat 104,30 juta perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026, meningkat 11,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,60 juta, tumbuh 6,27 persen secara tahunan. Angka tersebut memperlihatkan besarnya aktivitas perjalanan yang dapat menjadi peluang bagi destinasi di berbagai wilayah. Meski demikian, peningkatan perjalanan secara nasional tidak dengan sendirinya menjamin setiap daerah memperoleh manfaat ekonomi yang sebanding.

Daerah tetap perlu memperkuat daya tarik, kualitas informasi, aksesibilitas, pelayanan, serta kolaborasi dengan masyarakat. Promosi harus diikuti kesiapan destinasi agar ketertarikan calon pengunjung dapat berkembang menjadi kunjungan yang memberikan nilai tambah. Dalam konteks itu, peran duta wisata tidak seharusnya dibatasi pada menghadiri acara seremonial atau mengunggah materi promosi. Mereka dapat membantu membangun cerita yang mempertemukan sejarah, budaya, destinasi, dan kehidupan masyarakat dalam satu narasi yang mudah dipahami. Surabaya memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa pariwisata perkotaan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, melainkan juga tentang pengalaman, identitas, dan orang-orang yang membuat sebuah kota memiliki karakter.

Penyelenggaraan event juga memiliki kaitan dengan pergerakan ekonomi daerah. Kementerian Pariwisata mencatat bahwa hingga 30 September 2026, sebanyak 89 dari 125 event dalam program Karisma Event Nusantara 2026 telah terselenggara. Dari 78 event yang telah dikaji dampaknya, tercatat 9,97 juta pengunjung dan transaksi ekonomi langsung sebesar Rp888,52 miliar. Data tersebut berasal dari event-event yang dikaji dalam program nasional, bukan dari penyelenggaraan Grand Final Cak dan Ning Surabaya. Namun, angka itu memberikan konteks mengenai potensi event sebagai ruang pertemuan antara pariwisata, pelaku usaha, pekerja seni, dan pengunjung.

Bagi pemilihan Cak dan Ning Surabaya, relevansinya terletak pada bagaimana momentum acara dapat dilanjutkan menjadi kegiatan yang memiliki manfaat terukur. Kolaborasi dengan UMKM, promosi destinasi yang belum banyak dikenal, kegiatan edukasi sejarah, atau kampanye pelestarian budaya dapat menjadi bagian dari program lanjutan apabila dirancang dan dilaksanakan dengan baik. Pengukurannya juga perlu jelas. Jangkauan publikasi dapat dicatat, tetapi hasil yang lebih penting mencakup keterlibatan masyarakat, kunjungan ke destinasi yang dipromosikan, peluang bagi usaha lokal, serta keberlanjutan kegiatan setelah kampanye berakhir. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak hanya dinilai dari banyaknya penonton atau tingginya perhatian di media sosial. Ukurannya juga mencakup perubahan yang dapat dibuktikan dan manfaat yang dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat.

Cak Aldo dan Ning Rara kini mengemban peran sebagai wajah baru Duta Wisata Surabaya. Masa tugas mereka menjadi kesempatan untuk menunjukkan bagaimana gagasan anak muda dapat berkontribusi terhadap promosi pariwisata dan pelestarian budaya kota. Agar peran itu menghasilkan dampak, diperlukan program dengan tujuan yang jelas, dukungan pemerintah dan komunitas, serta evaluasi berkala. Keterlibatan masyarakat juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses, bukan sekadar penerima pesan promosi.

Pemerintah daerah memiliki peran dalam menyediakan ruang kolaborasi dan dukungan program. Komunitas serta pelaku usaha dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman lapangan, sementara para duta wisata membantu menyampaikan cerita lokal kepada khalayak yang lebih luas. Pada akhirnya, nilai sebuah ajang pemilihan duta wisata tidak berhenti pada nama yang diumumkan sebagai pemenang. Nilai itu akan terlihat dari kemampuan para pemenang menjaga konsistensi, memperluas keterlibatan masyarakat, dan mengubah gagasan menjadi kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Grand Final Cak dan Ning Surabaya 2026 telah melahirkan dua representasi baru generasi muda Kota Pahlawan. Kini, tantangan sesungguhnya berada di luar panggung: memastikan bahwa kekayaan lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga dihargai, dijaga, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

TABIR LENTERA NUSANTARA — Menyibak Fakta, Menjaga Negeri.

Penulis: Edy/BgsEditor: MT.SARI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top