Proyek U-Ditch Jalan Buntaran Disorot, Saluran Dibangun tetapi Keselamatan dan Pengawasan Dipertanyakan

Pekerjaan U-Ditch 60/80 dengan cover gandar 10 ton di Manukan Wetan masih menyisakan bagian saluran terbuka dan material di sekitar badan jalan. Di kawasan yang dipenuhi aktivitas pergudangan dan kendaraan berat, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang keselamatan, progres, dan pengawasan proyek.

SURABAYA — Pembangunan saluran drainase menggunakan U-Ditch 60/80 dengan cover gandar 10 ton di Jalan Buntaran, mulai dari kawasan rel kereta api ke arah utara, Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Surabaya, mendapat sorotan setelah kondisi area pekerjaan dinilai belum sepenuhnya tertata.

Pantauan di lokasi pada 5 Oktober 2026 menunjukkan masih terdapat material pekerjaan, tanah urukan, dan puing di sekitar area proyek. Pada sejumlah titik, bagian penutup saluran juga belum terpasang secara menyeluruh sehingga masih terdapat bagian saluran yang terbuka. Kondisi itu menjadi perhatian karena ruas Jalan Buntaran berada di kawasan dengan aktivitas pergudangan dan industri. Data Pemerintah Kota Surabaya mencatat Manukan Wetan memiliki ratusan titik kegiatan industri dan pergudangan, termasuk sejumlah lokasi yang berada di koridor Buntaran dan Raya Buntaran. Dengan kondisi tersebut, pekerjaan drainase tidak hanya berkaitan dengan bagaimana saluran dibangun, tetapi juga bagaimana keselamatan pengguna jalan dan kelancaran aktivitas kawasan tetap dijaga selama proyek berlangsung.

Berdasarkan papan informasi proyek sebagaimana diberitakan Harianradar, pekerjaan tersebut tercantum sebagai Pembangunan Saluran U-Ditch 60/80 dengan Cover Gandar 10 Ton. Nomor kontrak yang tercantum adalah 000.3.3/035/06.2.01.0012.EPC/436.7.3/2026. Pekerjaan fisik disebut dilaksanakan CV Bangun Sukses Bersama, sedangkan CV Makarya Engineering tercantum sebagai konsultan pengawas. Namun, dari penelusuran informasi publik yang tersedia, nilai kontrak, panjang atau volume pekerjaan, tanggal mulai dan batas akhir kontrak, serta progres fisik terakhir belum dapat diverifikasi secara independen. Karena itu, angka-angka tersebut tidak seharusnya diasumsikan dari proyek lain atau pekerjaan U-Ditch di lokasi berbeda.

Persoalan yang terlihat di lapangan adalah masih adanya bagian saluran yang belum tertutup. Bagi masyarakat yang melintas, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, khususnya apabila area tersebut tidak dilengkapi pengamanan, pembatas, rambu, atau penerangan yang memadai. Seorang warga sekitar yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat membahayakan pengguna jalan. “Kalau malam penerangannya kurang, bagian yang masih terbuka bisa membahayakan warga. Apalagi banyak orang yang lewat di sini,” ujarnya. Kekhawatiran itu perlu ditempatkan secara proporsional. Saluran yang belum tertutup tidak otomatis berarti pekerjaan melanggar spesifikasi atau gagal konstruksi. Bisa saja bagian tersebut memang masih berada dalam tahapan pekerjaan. Namun, selama masih berada di ruang publik, aspek keselamatan tetap menjadi tanggung jawab yang harus diperhatikan.

Selain bagian saluran yang belum tertutup, material dan tanah urukan juga terlihat berada di sekitar sisi jalan. Kondisi ini menjadi lebih sensitif karena kawasan Buntaran memiliki aktivitas pergudangan yang membutuhkan akses kendaraan angkutan. Data Pemerintah Kota Surabaya sendiri menunjukkan keberadaan banyak fasilitas pergudangan di kawasan Manukan Wetan, termasuk di alamat-alamat Jalan Buntaran dan Raya Buntaran. Bagi kendaraan besar, penyempitan ruang manuver dapat meningkatkan kebutuhan kehati-hatian, terutama ketika kendaraan harus berpapasan, keluar-masuk gudang, atau melakukan manuver di sekitar area pekerjaan. Tanah urukan yang terkena air hujan juga berpotensi menjadi licin apabila tidak segera ditangani. Karena itu, penataan area kerja bukan sekadar persoalan estetika. Ia berkaitan langsung dengan keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat.

Pembangunan U-Ditch seharusnya menghasilkan saluran yang tidak hanya terlihat baru, tetapi juga berfungsi sesuai desain. Ada sejumlah aspek teknis yang perlu dipastikan oleh pengawas dan dinas terkait, di antaranya elevasi dasar saluran, kemiringan aliran, pekerjaan dasar atau bedding, kestabilan elemen U-Ditch, kualitas dan kesesuaian sambungan, hingga posisi serta kapasitas cover yang digunakan. Khusus untuk cover dengan spesifikasi gandar 10 ton, perlu dipastikan bahwa produk yang dipasang sesuai dengan spesifikasi kontrak dan peruntukan beban pada lokasi tersebut. Demikian pula dengan bagian saluran yang terbuka. Jika memang masih dalam tahapan pelaksanaan, harus ada pengamanan yang memadai sampai pekerjaan selesai. Jika pekerjaan sudah mendekati tahap akhir, pertanyaannya menjadi lebih serius: mengapa masih terdapat bagian yang belum ditutup dan material belum dibersihkan? Jawabannya harus berasal dari dokumen pekerjaan dan penjelasan pihak yang bertanggung jawab, bukan sekadar asumsi.

Tujuan pembangunan drainase pada akhirnya adalah memperbaiki sistem pengaliran air. Karena itu, setelah pekerjaan selesai, saluran harus mampu menerima dan mengalirkan air sesuai desain. Masalah yang kerap muncul pada pekerjaan drainase bukan hanya kualitas elemen beton, tetapi juga persoalan elevasi, konektivitas saluran, inlet, outlet, sedimentasi, sambungan, dan material sisa pekerjaan. Saluran baru yang kemudian tertutup tanah atau material proyek justru dapat mengurangi fungsi yang hendak dibangun. Maka, pemeriksaan akhir seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apakah U-Ditch sudah terpasang?”, tetapi juga “apakah air benar-benar dapat mengalir melalui sistem tersebut?”

Papan proyek mencantumkan adanya konsultan pengawas. Artinya, aspek pengawasan menjadi bagian penting dalam memastikan pekerjaan berlangsung sesuai dokumen kontrak dan standar teknis. Pengawasan semestinya mencakup lebih dari sekadar keberadaan pekerja dan pemasangan beton. Yang perlu dipastikan antara lain kesesuaian dimensi dan mutu material, pekerjaan dasar sebelum U-Ditch dipasang, elevasi dan kemiringan saluran, kualitas sambungan, pemasangan cover, keamanan area kerja, perlindungan terhadap pengguna jalan, kebersihan saluran dari material proyek, serta pemulihan badan jalan setelah pekerjaan selesai. Dengan demikian, keberadaan konsultan pengawas bukan hanya formalitas administratif, melainkan bagian dari mekanisme pengendalian mutu pekerjaan.

Konteks kawasan juga penting diperhatikan. Data Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan Manukan Wetan memiliki 761 titik industri dan pergudangan dalam basis data infrastrukturnya. Di antaranya terdapat sejumlah gudang yang beralamat di Jalan Buntaran maupun Raya Buntaran. Kondisi itu menunjukkan akses jalan di kawasan ini memiliki fungsi ekonomi yang cukup penting. Maka, pelaksanaan proyek drainase harus mampu berjalan beriringan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan kegiatan usaha. Pembangunan infrastruktur tidak semestinya menyelesaikan satu persoalan sambil menimbulkan risiko baru yang sebenarnya dapat diminimalkan melalui pengaturan area kerja, pengamanan, dan pembersihan material secara bertahap.

Sorotan terhadap kondisi lapangan tidak serta-merta membuktikan adanya kegagalan konstruksi ataupun pelanggaran kontrak. Belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan adanya pengurangan volume, pekerjaan fiktif, manipulasi spesifikasi, kerugian negara, atau tindak pidana dalam proyek tersebut. Untuk membuktikan hal itu diperlukan pemeriksaan terhadap kontrak, RAB/BOQ, gambar kerja, spesifikasi teknis, laporan pengawasan, progres pekerjaan, dan hasil pemeriksaan fisik. Karena itu, persoalan yang paling tepat untuk disoroti saat ini adalah transparansi proyek, mutu pekerjaan, keselamatan publik, dan efektivitas pengawasan.

Dari kondisi lapangan tersebut, ada sejumlah pertanyaan yang layak dijawab Pemerintah Kota Surabaya melalui DSDABM. Berapa nilai kontrak proyek ini? Berapa panjang atau volume U-Ditch yang harus dikerjakan? Kapan kontrak dimulai dan kapan batas waktu penyelesaiannya? Berapa progres fisik pekerjaan per 5 Oktober 2026? Apakah bagian saluran yang masih terbuka merupakan tahapan pekerjaan yang memang direncanakan? Bagaimana standar pengamanan area terbuka untuk melindungi pejalan kaki dan kendaraan? Apakah seluruh material U-Ditch dan cover yang digunakan telah diperiksa kesesuaiannya dengan spesifikasi kontrak? Bagaimana pengawasan terhadap elevasi dan kemiringan saluran dilakukan? Kapan material, tanah urukan, dan puing di sekitar lokasi akan dibersihkan seluruhnya? Dan yang paling penting: setelah proyek selesai, bagaimana DSDABM memastikan saluran tersebut benar-benar terhubung dan berfungsi optimal sebagai bagian dari sistem drainase kawasan?

Proyek drainase merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Karena menggunakan anggaran publik, informasi mengenai nilai pekerjaan, volume, waktu pelaksanaan, spesifikasi, dan progres seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Kondisi lapangan pada 5 Oktober 2026 menjadi momentum untuk memastikan bahwa proses pembangunan tidak hanya mengejar penyelesaian fisik, tetapi juga memenuhi standar keselamatan dan kualitas.

Tabir Nusantara membuka ruang konfirmasi dan hak jawab kepada DSDABM Kota Surabaya, CV Bangun Sukses Bersama selaku pelaksana pekerjaan, serta CV Makarya Engineering selaku konsultan pengawas. Penjelasan mereka penting untuk memastikan apakah kondisi yang terlihat di lapangan merupakan tahapan pekerjaan yang normal atau terdapat pekerjaan yang memang membutuhkan perbaikan. Pada akhirnya, keberhasilan proyek drainase bukan ditentukan oleh seberapa banyak beton yang berhasil dipasang. Ukuran sebenarnya adalah apakah saluran berfungsi, area kerja aman, jalan kembali tertata, aktivitas warga tidak terganggu berkepanjangan, dan uang publik menghasilkan infrastruktur yang benar-benar bermanfaat.

TABIR LENTERA NUSANTARA — Menyibak Fakta, Menjaga Negeri.

Penulis: EdyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top