SURABAYA — Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) tengah menggenjot peningkatan kualitas jalan di sejumlah ruas kawasan Ngagel. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Jalan Ngagel Madya, ruas yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai lokasi prioritas pekerjaan overlay karena persoalan genangan dan elevasi badan jalan.
Rencana peningkatan Jalan Ngagel Madya sebenarnya telah disiapkan sejak awal 2026. DSDABM menyebut ruas tersebut sebagai salah satu lokasi yang akan mendapatkan pekerjaan pelapisan ulang, bersama kawasan Tenggilis Mejoyo dan sejumlah ruas di Surabaya Utara. Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DSDABM Surabaya Dedy Purwito sebelumnya menjelaskan bahwa peningkatan jalan dilakukan di lokasi yang selama ini mengalami persoalan genangan ketika hujan. Dalam penjelasan DSDABM, konstruksi overlay tidak sekadar menambahkan lapisan aspal di permukaan. Pekerjaan peningkatan menggunakan lapisan perkerasan aspal, termasuk Asphalt Concrete Binder Course (AC-BC) dan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC), yang masing-masing memiliki fungsi berbeda dalam struktur perkerasan jalan.
Informasi pekerjaan di kawasan Ngagel mencakup ruas Jalan Ngagel Madya menuju Kalibokor serta Jalan Ngagel Rejo Utara dan Jalan Ngagel Rejo Kidul. Untuk ruas Ngagel Madya–Kalibokor, pekerjaan dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus hingga 31 Oktober 2026, sedangkan pekerjaan di Ngagel Rejo Utara dan Ngagel Rejo Kidul dijadwalkan pada 18 September hingga 20 Oktober 2026. Pengaspalan dilakukan pada malam hari, sekitar pukul 21.00 hingga 05.00 WIB, dengan pertimbangan mengurangi gangguan terhadap arus kendaraan dan aktivitas masyarakat pada siang hari.
Namun, pengaturan waktu kerja malam tidak otomatis menghilangkan dampak terhadap lalu lintas. Penyempitan lajur, kendaraan proyek, proses pengerukan permukaan lama, hingga penghamparan material tetap berpotensi menghambat arus kendaraan di kawasan tersebut. Ngagel sendiri merupakan kawasan dengan aktivitas permukiman, perdagangan, dan mobilitas kendaraan yang cukup tinggi. Karena itu, setiap tahapan pekerjaan memiliki konsekuensi langsung terhadap pengguna jalan dan warga yang berada di sepanjang ruas pekerjaan.
Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya kapan jalan selesai diaspal, tetapi bagaimana tahapan pekerjaan dilakukan sejak awal. Hal itu menjadi relevan setelah Pemkot Surabaya pada Agustus lalu menemukan persoalan pada proyek saluran di kawasan Kedungmangu Timur dan Tenggumung Wetan. Saat melakukan inspeksi, Wali Kota Eri Cahyadi menemukan pekerjaan fisik saluran telah selesai, tetapi pengaspalan tertunda hingga sekitar dua minggu. Akibatnya, permukaan jalan menjadi bergelombang dan tidak rata. Eri menyebut perbedaan ketinggian permukaan mencapai sekitar dua sentimeter dan kondisi tersebut telah memicu kecelakaan pengendara sepeda motor. Kontraktor kemudian diberi waktu 1×24 jam untuk menyelesaikan pengaspalan. Pemkot juga meminta DSDABM memperketat pengawasan terhadap proyek infrastruktur yang sedang berjalan. Eri menegaskan pekerjaan infrastruktur seharusnya dilakukan secara bertahap dan tuntas, mulai dari menggali, menutup, hingga mengaspal jalan sampai kembali aman sebelum pekerjaan berpindah ke titik berikutnya.
Konteks tersebut penting untuk proyek di Ngagel. Pengaspalan jalan memang memberikan manfaat apabila dilaksanakan sesuai desain, spesifikasi teknis, dan standar mutu. Namun, kualitas akhir tidak hanya ditentukan oleh lapisan aspal yang terlihat di permukaan. Tahapan pekerjaan di bawahnya, kondisi lapisan pondasi, pemadatan, elevasi terhadap saluran dan trotoar, sambungan dengan jalan lama, hingga pengaturan lalu lintas selama pekerjaan ikut menentukan umur layanan jalan. Karena itu, pekerjaan overlay di kawasan padat seperti Ngagel seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “kapan jalan selesai diaspal?” Pertanyaan berikutnya adalah apakah elevasi akhir sesuai perencanaan, apakah drainase tetap berfungsi, apakah permukaan jalan rata, apakah sambungan antarsegmen dikerjakan dengan baik, serta apakah jalan sudah cukup aman ketika kembali dibuka untuk lalu lintas.
Penelusuran terhadap data pengadaan yang terindeks juga menunjukkan DSDABM memang menggunakan berbagai paket pekerjaan flexible pavement dengan sumber pembiayaan APBD dan mekanisme pengadaan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dokumen RUP Pemkot yang terindeks mencatat paket Pembangunan Jalan Flexible Pavement Lokal Jalan Ngagel Jaya Utara dengan nilai pagu Rp361.758.028. Namun, paket tersebut bukan otomatis sama dengan paket Ngagel Madya–Kalibokor 2026 yang sedang dibahas, sehingga tidak tepat jika nilainya digunakan untuk menyimpulkan anggaran proyek Ngagel Madya. Artinya, untuk membuka informasi secara utuh kepada publik, data yang masih perlu dikonfirmasi adalah nomor RUP, nilai pagu/HPS, metode pemilihan penyedia, nama penyedia/kontraktor, nomor kontrak, nilai kontrak, panjang ruas yang dikerjakan, volume pekerjaan, serta progres fisik untuk masing-masing paket Ngagel 2026. Bagian ini penting karena istilah “proyek pengaspalan Ngagel” bisa merujuk pada beberapa paket berbeda, bukan satu pekerjaan tunggal.
Pemkot Surabaya memiliki alasan kuat melakukan peningkatan jalan di Ngagel. Pemerintah sendiri sejak awal tahun telah menyatakan bahwa overlay di Ngagel Madya diarahkan untuk menangani ruas yang berkaitan dengan persoalan genangan. Namun, keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari jalan yang tampak baru dan hitam setelah diaspal. Ukuran yang lebih penting adalah apakah jalan menjadi lebih aman, tidak kembali bergelombang, tidak menimbulkan persoalan genangan baru, dan mampu bertahan sesuai umur rencana. Terlebih, pengalaman proyek sebelumnya menunjukkan bahwa keterlambatan satu tahapan saja dapat berdampak langsung terhadap keselamatan pengguna jalan. Pemkot sendiri telah mengingatkan kontraktor dan DSDABM agar persoalan tersebut tidak kembali terjadi.
Karena itu, proyek Ngagel layak dipantau sampai tahap akhir, bukan hanya ketika alat berat mulai bekerja. Bagi masyarakat, persoalannya sederhana: jalan memang perlu diperbaiki. Tetapi ketika uang publik digunakan, jalan juga harus dikerjakan dengan benar, selesai tepat waktu, aman dilalui, dan dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya.






