Ledakan Ruko San Antonio Surabaya, Lima Orang Luka dan 41 Bangunan Terdampak

Ledakan terjadi saat aktivitas memasak berlangsung di Rumah Makan Nasi Tempong Sri Dewi. Polisi menduga kebocoran instalasi LPG menjadi pemicu, sementara tiga tabung LPG di lokasi disebut tidak meledak.

SURABAYA — Ledakan keras mengguncang kawasan Ruko San Antonio, Pakuwon City, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Selasa (6/10/2026) pagi. Peristiwa di Rumah Makan Nasi Tempong Sri Dewi, Ruko N1-62, itu melukai lima orang dan merusak puluhan bangunan di sekitar lokasi.

Laporan kejadian diterima petugas sekitar pukul 07.00 WIB, saat aktivitas memasak baru berlangsung. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan seorang koki sempat mencium bau gas sebelum ledakan terjadi. Informasi yang dihimpun di lokasi juga menyebut alarm LPG sempat berbunyi tak lama sebelum ledakan. Tekanan yang ditimbulkan merusak bagian bangunan rumah makan dan bangunan di sekitarnya, membuat kaca sejumlah ruko pecah dan sejumlah dinding rusak.

Hasil pemeriksaan awal kepolisian menemukan tiga tabung LPG berkapasitas masing-masing 50 kilogram di rumah makan tersebut. Namun, polisi memastikan ketiga tabung itu tidak meledak. Ketiganya ditemukan dalam kondisi kosong setelah gas di dalamnya keluar. Dugaan sementara justru mengarah pada kebocoran dari bagian pipa atau saluran induk instalasi LPG. Kapolrestabes Surabaya menyatakan penyebab teknis masih didalami. Karena itu, istilah “tabung gas meledak” tidak sepenuhnya menggambarkan temuan awal di lokasi. Polisi juga memastikan tim Jibom Gegana tidak menemukan bahan peledak maupun unsur bom dalam pemeriksaan tempat kejadian perkara. Hingga pemeriksaan selesai, penyebab ledakan tetap harus disebut sebagai dugaan kebocoran gas LPG, bukan kesimpulan akhir mengenai sumber maupun mekanisme ledakan.

Lima orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan. Menurut BPBD Surabaya, kelima korban berada di sekitar lokasi kejadian saat ledakan terjadi dan mengalami luka bakar. Empat korban sempat mendapatkan penanganan di RSUD Haji Surabaya. Informasi medis dari rumah sakit menyebut sebagian korban mengalami luka bakar sekitar 13 hingga 18 persen, termasuk pada bagian wajah dan leher. Dua korban direncanakan mendapat perawatan intensif di ICU, sementara dua korban lainnya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo karena mengalami trauma inhalasi. Perkembangan berikutnya, tiga dari lima korban tercatat menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, sedangkan dua korban lainnya masih dirawat di RSUD Haji.

Dampak ledakan meluas ke lingkungan sekitar. Data sementara kepolisian mencatat 41 bangunan mengalami kerusakan. Dari jumlah itu, lima bangunan rusak parah. Selain ruko di sekitar titik ledakan, 15 rumah warga di bagian belakang kawasan ikut terdampak. Sebagian besar kerusakan lainnya berupa kaca pecah akibat kuatnya getaran. Sejumlah kendaraan di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan, dan petugas masih mendata dampak material akibat ledakan. Besarnya dampak menunjukkan kejadian ini tidak hanya berpengaruh pada satu unit usaha. Ledakan turut menyentuh bangunan dan warga di sekitar kawasan komersial tersebut.

Setelah kejadian, petugas kepolisian, BPBD, Inafis, Satpol PP, dan unsur terkait melakukan penanganan di lokasi. Polisi masih memeriksa untuk memastikan titik kebocoran serta mekanisme terjadinya ledakan. Pada tahap ini, petugas berfokus pada penanganan korban, pengamanan lokasi, dan pemeriksaan tempat kejadian perkara. Area terdampak juga perlu dipastikan aman sebelum warga maupun pekerja kembali memasuki bangunan, khususnya lima bangunan yang mengalami kerusakan parah.

Peristiwa ini masih berada dalam tahap penyelidikan. Karena itu, tidak tepat bila sejak awal langsung menunjuk pihak tertentu sebagai penyebab atau menyimpulkan telah terjadi kelalaian. Namun, fakta bahwa kebocoran gas diduga menjadi pemicu dan dampaknya mencapai 41 bangunan membuat aspek keselamatan layak menjadi bagian dari evaluasi. Pemeriksaan nantinya tidak cukup hanya menjawab dari mana gas bocor. Publik juga perlu mengetahui bagaimana kondisi instalasi LPG sebelum kejadian, apakah terdapat sistem deteksi kebocoran, bagaimana prosedur pemeriksaan dan perawatan instalasi, serta apakah standar keselamatan telah diterapkan di tempat usaha tersebut. Pertanyaan itu penting karena insiden terjadi di kawasan komersial yang berdekatan dengan hunian. Kegagalan pada satu instalasi berpotensi berdampak kepada banyak orang di sekitarnya. Namun, seluruh pertanyaan tersebut harus dijawab berdasarkan hasil pemeriksaan teknis dan keterangan resmi, bukan berdasarkan dugaan atau spekulasi.

Ledakan San Antonio menjadi pengingat bahwa keselamatan instalasi gas di tempat usaha bukan sekadar persoalan internal pemilik usaha. Ketika sebuah insiden dapat melukai pekerja dan merusak puluhan bangunan, sistem keselamatan dan pengawasan patut dievaluasi secara menyeluruh. Bukan untuk mencari kesalahan sebelum penyelidikan selesai, tetapi untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Jika nantinya penyelidikan membuktikan adanya persoalan pada instalasi atau prosedur keselamatan, evaluasi tidak semestinya berhenti pada satu lokasi. Tempat usaha lain yang menggunakan LPG dalam kapasitas besar juga perlu menjadi perhatian. Pengawasan yang baik bukan hanya hadir setelah ledakan terjadi. Ukuran terpentingnya adalah kemampuan menemukan potensi bahaya sebelum berubah menjadi bencana.

Untuk saat ini, polisi masih mendalami penyebab ledakan. Lima korban sedang mendapatkan perawatan dan puluhan bangunan masih dalam proses pendataan serta pemeriksaan. Tabir Nusantara akan mengikuti perkembangan penyelidikan dan kondisi para korban berdasarkan keterangan resmi pihak berwenang.

FAKTA PERISTIWA — 6 OKTOBER 2026

Lokasi: Ruko San Antonio, Pakuwon City, Mulyorejo, Surabaya.
Titik kejadian: Rumah Makan Nasi Tempong Sri Dewi, Ruko N1-62.
Waktu: sekitar pukul 07.00 WIB.
Korban: 5 orang luka.
Bangunan terdampak: 41 bangunan.
Kerusakan parah: 5 bangunan.
Rumah warga terdampak: 15 unit.
LPG di lokasi: 3 tabung, masing-masing berkapasitas 50 kg.
Kondisi tabung: polisi menyebut tabung tidak meledak dan telah kosong.
Dugaan awal: kebocoran pada instalasi/pipa LPG.
Bahan peledak: tidak ditemukan oleh Tim Jibom Gegana.
Status penyelidikan: masih berlangsung.

Penulis: EK/bgsEditor: MT.SARI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top