Tolak Relokasi ke Tambak Oso Wilangun, Ratusan Jagal RPH Pegirian Duduki DPRD Surabaya Tuntut Temui Ketua Dewan

Massa aksi dari aliansi pedagang dan jagal sapi merangsek masuk ke Gedung DPRD Surabaya menuntut pembatalan rencana pemindahan aktivitas potong hewan.

Kerumunan massa aksi jagal di DPRD Surabaya mendengarkan orasi dari mobil komando.
Gambar ini merekam momen aksi jagal di DPRD Surabaya menolak rencana relokasi RPH

DITULIS PADA: Rabu, 14 Januari 2026 | 13:23

SURABAYA – Gelombang penolakan terhadap kebijakan relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian kembali berlanjut dengan aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Jalan Yos Sudarso, pada Rabu (14/1/2026). Ratusan massa yang terdiri dari jagal dan pedagang daging sapi mendesak Pemerintah Kota Surabaya membatalkan rencana pemindahan aktivitas pemotongan hewan ke wilayah Tambak Oso Wilangun karena dinilai merugikan keberlangsungan usaha mereka.

Berdasarkan pantauan di lokasi, massa aksi tiba di kawasan Jalan Yos Sudarso sekitar pukul 12.00 WIB setelah sebelumnya menggelar orasi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Kedatangan massa yang menggunakan puluhan kendaraan roda dua dan empat menyebabkan akses lalu lintas di depan gedung dewan tersendat. Demonstran memarkir kendaraan hingga menutup sebagian badan jalan, memaksa pengguna jalan lain mencari jalur alternatif guna menghindari kepadatan di pusat kota tersebut.

Situasi sempat menegang ketika massa berupaya menghentikan sebuah kendaraan roda empat yang hendak keluar dari area gedung dewan. Massa menduga kendaraan tersebut membawa anggota legislatif, sehingga mereka melakukan penghadangan sembari meneriakkan tuntutan agar pimpinan dewan segera menemui pengunjuk rasa. Orator aksi terus menyuarakan desakan agar aspirasi mereka didengar langsung oleh para wakil rakyat.

Eskalasi aksi meningkat ketika sejumlah pengunjuk rasa perempuan berhasil masuk ke dalam lobi Gedung DPRD Surabaya dan naik hingga ke lantai dua. Kelompok ibu-ibu tersebut bersikeras bertahan di dalam gedung untuk bertemu langsung dengan Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono. Meski petugas keamanan berupaya melakukan pendekatan persuasif agar massa kembali ke area luar, mereka menolak beranjak sebelum mendapat kepastian audiensi.

Salah satu peserta aksi di dalam gedung mengungkapkan kekecewaannya atas lambatnya respons pemerintah terhadap aspirasi pedagang yang telah disuarakan selama tiga hari berturut-turut. Menurutnya, ketidakpastian ini berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga para jagal dan pedagang. “Sudah tiga hari kami demo, tidak didengar. Kasihan anak-anak kami harus sekolah, sementara dari kemarin hanya diberi janji terus,” ujar salah satu pengunjuk rasa di lokasi.

Koordinator aksi, Abdullah Mansyur, menjelaskan bahwa demonstrasi ini merupakan puncak kekesalan para jagal dan pedagang daging sapi se-Kota Surabaya. Abdullah menegaskan sasaran utama aksi hari ketiga ini adalah Kantor Gubernur Jatim dan Pemerintah Kota serta DPRD Surabaya. Pihaknya menyoroti dampak sosial ekonomi jika relokasi ke Tambak Oso Wilangun dipaksakan, mengingat jarak yang jauh dari basis pasar tradisional di Surabaya Pusat dan Utara.

Sebagai informasi, Pemerintah Kota Surabaya merencanakan relokasi RPH Pegirian sebagai bagian dari penataan kawasan wisata religi Ampel dan sentralisasi pemotongan hewan. Namun, rencana tersebut mendapat resistensi dari sekitar 35 hingga 50 pedagang dan penyuplai daging yang selama ini beroperasi di Pegirian. Hingga berita ini diturunkan, sebagian massa masih bertahan di kawasan DPRD Surabaya menunggu respons resmi dari pimpinan dewan terkait tuntutan pembatalan relokasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top