Ditulis pada: Minggu, 21 Desember 2025
Surabaya – Lilla Syifa (29), seorang perempuan asal Surabaya, Jawa Timur, menjadi sorotan publik setelah membagikan kisah perjuangannya melawan Diabetes LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults). Kondisi kesehatan Cipa, sapaan akrabnya, memburuk akibat akumulasi gaya hidup tidak sehat hingga sempat membuatnya mengalami koma selama 12 hari pada pertengahan tahun 2025.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, gejala awal penyakit ini mulai dirasakan Cipa sejak Mei atau Juni 2025 namun sempat diabaikan. Ia merasakan kram kaki yang awalnya dianggap efek penggunaan sepatu hak tinggi, serta rasa haus ekstrem (polidipsia) yang membuatnya merasa dehidrasi parah meski sudah minum banyak air.
Gejala tersebut semakin parah dengan frekuensi buang air kecil yang meningkat drastis (poliuria) hingga setiap 10 menit sekali. Saat memeriksakan diri ke dokter, hasil tes menunjukkan gula darah sewaktu mencapai 356 mg/dl, sebuah angka yang mengindikasikan hiperglikemia parah.
Selain itu, pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar HbA1c Cipa berada di angka 11,5 persen. Angka ini jauh melampaui batas normal yang ditetapkan dalam standar medis, di mana kadar HbA1c yang sehat seharusnya berada di bawah 5,7 persen.
Dalam dunia kesehatan, diagnosis dan batasan kadar gula darah diatur melalui pedoman penanganan penyakit tidak menular yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Mengacu pada ketentuan tersebut, kadar gula yang sangat tinggi memerlukan intervensi medis segera untuk mencegah kerusakan organ vital lebih lanjut.
Kondisi Cipa mencapai titik kritis pada 17 Agustus malam ketika ia kehilangan kesadaran dan harus dirawat intensif di ICU. Selama masa koma, ia dipasangi ventilator dan selang makan, sementara fungsi ginjalnya dilaporkan anjlok hingga tersisa 10 persen akibat komplikasi gula darah tinggi yang merusak organ.
Menurut pengakuan Cipa, pemicu utama kondisi ini adalah kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis viral hampir setiap hari sebagai pelarian dari stres pekerjaan. Hal ini diperparah dengan pola tidur buruk di mana ia sering baru tidur pukul 03.00 pagi serta minimnya aktivitas olahraga fisik.
Meskipun sempat disarankan dokter untuk menjalani cuci darah (hemodialisis), fungsi ginjal Cipa perlahan membaik sehingga tindakan tersebut tidak dilakukan. Namun, akibat kerusakan pankreas yang permanen, Cipa kini harus bergantung pada suntikan insulin seumur hidup dan menjalani pola hidup ketat demi menjaga kesehatannya.






