SURABAYA – Organisasi Madura Anak Serumpun (MADAS) Jawa Timur bersama gabungan elemen masyarakat menyuarakan kritik keras terhadap kondisi penegakan hukum di Indonesia yang dinilai berada di titik nadir. Lewat pernyataan sikap bersamanya, kelompok aksi ini menyoroti makin tajamnya ketimpangan hukum yang merugikan masyarakat miskin.
Koordinator Lapangan Aksi, Ahmad Bahrul Efendi, menegaskan bahwa skandal hukum yang menyeret mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah, menjadi bukti nyata hilangnya nurani penguasa di tengah krisis ekonomi yang menghimpit rakyat.
“Setiap rupiah yang dugaan dikorupsi dan disembunyikan dalam brankas persembunyian adalah darah dan keringat rakyat miskin yang dirampas secara paksa,” tegas Ahmad Bahrul Efendi, Selasa, (21/7/2026) di Kejaksaan Tinggi, Jalan, Ahmad Yani No.54, Gayungan, Kec. Gayungan, Surabaya, Jawa Timur. Pada pukul. 14.00 WIB.
Tiga Tuntutan Desak (Tritura Rakyat). Guna merespons apa yang mereka sebut sebagai ketidakadilan struktural, MADAS Jatim dan elemen masyarakat melayangkan tiga tuntutan mendesak yang dinamakan Tritura Rakyat:
1. Tahan Tersangka Febrie Adriansyah Mendesak aparat penegak hukum segera melakukan penahanan demi hukum. Secara yuridis, kasus ini dinilai telah memenuhi syarat objektif dengan dugaan (ancaman pidana di atas 5 tahun) serta syarat subjektif untuk mencegah risiko intervensi saksi atau penghilangan barang bukti.
2. Menuntut pengalihan penuh proses penyelidikan dan penyidikan perkara Febrie Adriansyah dari Kejaksaan Agung ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah ini dinilai vital untuk menghindari conflict of interest (benturan kepentingan).
3. Mendesak pengusutan tuntas praktik korupsi, pungutan liar, hingga mafia anggaran di Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Timur. Aset hasil kejahatan diminta untuk disita dan dirampas demi mengembalikan kesejahteraan rakyat melalui sektor pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan fasilitas publik.
MADAS Jatim menekankan pentingnya penegakan prinsip Equality Before The Law (persamaan di hadapan hukum) agar tidak sekadar menjadi slogan kosong. Pihaknya turut menyerukan konsolidasi lintas elemen, mulai dari mahasiswa, buruh, petani, nelayan, tokoh agama, hingga organisasi kemasyarakatan, untuk bersama-sama mengawal proses hukum di Tanah Air.
“Fiat Justitia Ruat Caelum. Hukum harus tetap ditegakkan walau langit runtuh! Miskinkan koruptor, selamatkan hajat hidup rakyat kecil,” pungkasnya.






