Surabaya, 26 Oktober 2025 —Udara di Surabaya kini tercemar mikroplastik. Penelitian Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SEIJ) mencatat rata-rata 12 partikel mikroplastik setiap dua jam pada area 90 cm² di beberapa titik pemantauan.
Survei yang berlangsung pada periode Mei–Juli 2025 melibatkan 18 kota dan kabupaten di Indonesia. Dari hasil pengolahan data, Surabaya menempati urutan kedelapan dalam daftar kota dengan tingkat kontaminasi, sementara posisi tertinggi dicatat di Jakarta Pusat.
Metode penelitian menggunakan deposisi pasif. Tim peneliti menempatkan cawan petri kaca pada ketinggian 1–1,5 meter — setara zona pernapasan manusia — untuk menangkap partikel yang mengendap secara alami selama dua jam. Setelah itu, partikel diamati menggunakan mikroskop stereo dan jenis polimernya dikonfirmasi lewat FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy).
“Dari sampel Surabaya kami menemukan 12 partikel, yang terdiri dari 5 partikel berbentuk serat (fiber) dan 7 partikel fragmen. Ini memperlihatkan adanya sumber mikroplastik di lingkungan perkotaan,” ujar Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika, Jumat (24/10/2025).
Rafika menjelaskan bahwa mikroplastik adalah potongan plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang permukaannya mudah mengikat zat beracun seperti logam berat dan bahan kimia berbahaya. “Karena membawa campuran polutan sekaligus, mikroplastik bisa jauh lebih beracun dibandingkan satu jenis logam berat saja,” katanya.
Penelitian internasional sebelumnya menunjukkan pembakaran plastik dapat menghasilkan partikel mikroplastik dan aerosol sintetis yang bertahan lama di udara dan dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Ketika partikel-partikel ini bereaksi dengan uap air, mereka berpotensi turun bersama hujan — fenomena yang kini dikenal sebagai hujan mikroplastik.
Menurut Rafika, sumber utama mikroplastik di udara antara lain pembakaran terbuka sampah plastik dan rumah tangga, degradasi produk plastik dan tekstil sintetis, serta emisi kendaraan akibat gesekan ban dan rem.
Rekomendasi untuk Pemerintah
Sebagai tindak lanjut, Ecoton mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta pemerintah daerah untuk mempertimbangkan langkah strategis berikut:
- Melarang pembakaran sampah terbuka dan memperkuat penegakan hukum lingkungan hingga tingkat kelurahan.
- Meningkatkan fasilitas pemilahan sampah dari sumbernya dan memperluas penerapan konsep zero waste di tingkat kecamatan.
- Mengembangkan pengolahan sampah organik seperti kompos dan biodigester untuk mengurangi volume sampah yang berpotensi dibakar.
- Melakukan pemantauan berkala kandungan mikroplastik di udara dan air hujan sebagai dasar kebijakan berbasis sains.
- Mengintensifkan kampanye publik dan pendidikan lingkungan untuk mengubah perilaku masyarakat terkait pembakaran sampah dan penggunaan plastik sekali pakai.
Temuan ini mengingatkan bahwa kualitas udara kota tidak hanya dipengaruhi oleh emisi kendaraan dan industri, tetapi juga partikel kecil yang tak terlihat, seperti mikroplastik. Upaya terpadu diperlukan untuk menjaga kesehatan warga dan lingkungan di Surabaya.
Ditulis : REDAKSI
![]()






