Surabaya, Kamis (23/10/2025) — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat menindaklanjuti laporan adanya anak putus sekolah di Jalan Krembangan Bhakti 2/4B, RT 002/RW 002, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan. Laporan tersebut langsung direspons oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, bersama Camat Krembangan, Harun Ismail, pada Rabu (22/10/2025) sore.
Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa hasil penjangkauan menunjukkan anak bernama Putri Gita Taria (20) sebelumnya bersekolah di SMP Negeri 5 Surabaya. Setelah lulus, Putri tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena terkendala masalah ekonomi.
“Jadi bukan putus sekolah di jenjang SMP, melainkan tidak melanjutkan ke SMA karena faktor ekonomi,” ujar Yusuf.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Surabaya akan memfasilitasi Putri untuk mengikuti program Kejar Paket C Krisna. Program ini merupakan salah satu inovasi Dinas Pendidikan dalam menekan angka anak putus sekolah di Surabaya.
“Putri akan mengikuti Paket C Krisna di kawasan Dupak, dan seluruh biayanya gratis. Kami juga akan melakukan pendampingan dan pemantauan secara berkala melalui pihak kecamatan dan kelurahan,” tambah Yusuf.
Selain membantu Putri, Pemkot juga akan melakukan pemantauan terhadap adiknya, Ristiyo Ari Prabakti (9), yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SD.
“Untuk adiknya, kami koordinasikan dengan pihak sekolah agar tidak mengalami kendala belajar. Kalau pun nanti perlu dipindah, kami pastikan tidak akan merugikan anak tersebut,” jelas Yusuf.
Camat Krembangan, Harun Ismail, menjelaskan bahwa Putri dan Ristiyo adalah anak dari Mariyati (34), warga Krembangan Bhakti 2/4B. Ia menyebutkan, Putri adalah anak pertama yang sudah lulus dari SMPN 5 namun tidak melanjutkan sekolah, sementara adiknya masih bersekolah di SD Islam Nurul Huda.
“Pihak kecamatan melalui Kelurahan Kemayoran akan memfasilitasi antar jemput Putri secara gratis. Kami juga akan memberikan pelatihan keterampilan seperti memasak, membuat kue, merias, hingga salon agar ia memiliki bekal untuk mandiri,” tutur Harun.
Berdasarkan data yang diterima Pemkot Surabaya, ibu kandung Putri, Mariyati, bekerja sebagai buruh cuci rumah tangga dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Berdasarkan pendataan keluarga, Mariyati masuk kategori Non Gamis atau bukan keluarga miskin. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan perhatian dan pendampingan khusus bagi keluarganya agar bisa mandiri dan sejahtera.
Harun menegaskan, pemerintah akan terus mendampingi keluarga ini hingga Putri menyelesaikan pendidikan Paket C.
“Kami harap setelah lulus, Putri bisa meningkatkan taraf hidup keluarganya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kami juga akan bantu ibunya agar bisa mengikuti program padat karya atau pelatihan keterampilan,” pungkasnya.
(Ek)
Copyright © 2025 tabirlenteranusantara.com
Ditulis oleh Redaksi — redaksi@tabirlenteranusantara.com






