Mural Gubeng Pojok Surabaya Dirusak Lagi, Warna-Warni Kota Pudar oleh Tangan Usil

Baru seminggu selesai, mural penuh warna di Jalan Gubeng Pojok, Surabaya, sudah jadi korban vandalisme. Seniman kecewa, wali kota geram, warga pun menyesalkan rusaknya karya yang seharusnya jadi kebanggaan kota.

Mural warna-warni yang mengalami vandalisme di Jalan Gubeng Pojok, Surabaya
Dua potret mural di Jalan Gubeng Pojok, Surabaya, yang baru selesai dibuat dan mengalami vandalisme berupa coretan dan penggoresan. Mural ini menampilkan keberagaman budaya dan simbol kerukunan masyarakat Surabaya sebelum dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab.

Surabaya — Mural berwarna-warni di Jalan Gubeng Pojok, Surabaya, kembali jadi sasaran vandalisme. Padahal, karya yang baru rampung sepekan lalu itu dibuat untuk mempercantik ruang publik dan menggambarkan semangat keberagaman warga kota.

Perusakan yang terjadi pada 28 Oktober 2025 itu membuat seniman kecewa. Menurut Surya Adi Rahman dari Adeco Surabaya, tim pembuat mural, lokasi tersebut memang dikenal rawan aksi vandalisme. Ia menyebut, pihaknya sudah mengajukan pemasangan kamera CCTV, tapi proses administratif yang panjang membuat kamera baru aktif setelah aksi perusakan pertama terjadi.

“Pelaku biasanya berpikir, kalau tempat ini kan biasa dicoret, ya sudah muralnya juga dicoret,” kata Surya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, langsung bereaksi keras. Ia menegaskan bahwa mural itu bukan sekadar lukisan dinding, melainkan simbol kerukunan masyarakat Surabaya yang harus dijaga bersama.

“Mural ini simbol kerukunan masyarakat Surabaya yang harus dijaga. Tindakan perusakan ini merugikan banyak pihak, dan kami akan menindak tegas pelaku sesuai hukum yang berlaku,” ujar Eri.

Sementara itu, pemerhati kebijakan publik Bagus P. menilai, kasus ini mencerminkan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap nilai seni publik. Menurutnya, karya di ruang terbuka semestinya jadi media dialog sosial, bukan sasaran coretan iseng.

“Perlindungan seni publik perlu didukung edukasi dan pengawasan agar masyarakat punya rasa tanggung jawab terhadap karya di ruang terbuka,” katanya.

Kasus vandalisme mural di Gubeng Pojok jadi pengingat bahwa menjaga keindahan kota tak cukup dengan cat dan kuas. Butuh kesadaran dan rasa memiliki dari setiap warga. Karena seindah apa pun tembok dicat, kalau hati masih kotor, warna-warni itu akan pudar lagi.

Laporan: tabirlenteranusantara.com

Penulis: (EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top