Buktikan Air Hujan di Surabaya Terkontaminasi Mikroplastik, Ancaman Kesehatan Mengintai Warga

Temuan tim peneliti mengungkap ancaman kesehatan tak kasat mata yang menyebar melalui presipitasi di seluruh kota.

Ilustrasi Jembatan Suramadu, ikon infrastruktur Jawa Timur, dalam guyuran hujan lebat. Visual ini merepresentasikan temuan riset terbaru bahwa air hujan di Surabaya telah terkontaminasi mikroplastik, mengubah presipitasi yang turun di atas landmark kebanggaan warga Jawa Timur ini menjadi ancaman kesehatan yang tak kasat mata. (Ilustrasi: AI Generated)

Surabaya,Jawa Timur, — menghadapi ancaman polusi baru yang mengintai dari langit, di mana air hujan yang turun pada periode 11-14 November 2025 telah terbukti mengandung mikroplastik dalam tingkat signifikan berdasarkan hasil riset kolaboratif empat lembaga lingkungan. Kontaminasi partikel plastik berukuran mikroskopis yang ditemukan merata di seluruh wilayah kota ini, menurut para peneliti, terutama bersumber dari aktivitas pembakaran sampah plastik terbuka, gesekan ban kendaraan, dan polusi industri, yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti peradangan jaringan dan gangguan hormon jika terpapar secara terus-menerus melalui pernafasan, kulit, atau konsumsi air terkontaminasi.

 

KRONOLOGI TEMUAN DAN METODOLOGI RISET

Temuan mencengangkan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang digelar secara kolaboratif oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai(Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Ecoton. Proses pengambilan sampel dilakukan selama empat hari berturut-turret, dari 11 hingga 14 November 2025, di tujuh titik pemantauan yang merepresentasikan berbagai karakteristik kawasan di Surabaya. Titik-titik tersebut antara lain meliputi kawasan permukiman seperti Dharmawangsa dan Ketintang, kawasan padat industri dan perdagangan seperti Tanjung Perak, serta kawasan dengan aktivitas masyarakat yang tinggi seperti Pakis Gelora.

Metodologi yang diterapkan dalam pengumpulan data dirancang secara ketat untuk memastikan akurasi. Setiap tim peneliti menempatkan wadah penampung sampel yang terbuat dari material non-plastik, yaitu aluminium, stainless steel, dan mangkuk kaca berdiameter 20-30 sentimeter. Wadah-wadah ini diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter dari permukaan tanah untuk meminimalkan kontaminasi dari debu dan partikel yang teraduk dari tanah. Masa penampungan air hujan berlangsung selama 1 hingga 2 jam pada setiap kejadian hujan, menangkap presipitasi secara langsung dari atmosfer sebelum menyentuh permukaan tanah. Sampel yang terkumpul kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi dan menghitung jumlah partikel mikroplastik per liter air.

 

DATA TEMUAN DAN TINGKAT KONTAMINASI

Hasil analisis laboratorium terhadap sampel-sampel tersebut mengungkap tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan dan bervariasi di setiap lokasi.Koordinator Penelitian Mikroplastik Kota Surabaya, Alaika Rahmatullah, dalam pernyataannya pada Sabtu, 15 November 2025, mengonfirmasi bahwa Surabaya menempati peringkat keenam dari 18 kota di Indonesia yang telah terdeteksi memiliki kandungan mikroplastik di udara. Tingkat kontaminasi rata-rata yang terukur mencapai 12 partikel per 90 cm² per 2 jam, sebuah indikator yang menunjukkan betapa partikel plastik telah menjadi bagian dari komposisi udara urban.

Dari semua titik pemantauan, kawasan Pakis Gelora mencatat rekor pencemaran tertinggi dengan konsentrasi mencengangkan, yaitu 356 partikel mikroplastik per liter air hujan. Posisi kedua ditempati oleh kawasan Tanjung Perak, yang merupakan pusat pelabuhan dan aktivitas logistik, dengan 309 partikel per liter. Angka-angka ini secara nyata lebih tinggi dibandingkan titik-titik lainnya, seperti Dharmawangsa dan Gunung Anyar, yang meskipun tetap tercemar, menunjukkan level kontaminasi yang lebih rendah. Alaika Rahmatullah menjelaskan bahwa variasi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat. “Tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dipengaruhi kondisi lingkungan, semisal di Pakis Gelora, menunjukkan kadar mikroplastik tinggi karena terdapat aktivitas pembakaran sampah dan lokasi yang berdekatan dengan pasar dan jalan raya,” ujarnya, menekankan korelasi langsung antara aktivitas antropogenik dan beban polusi mikroplastik di atmosfer.

 

JENIS MIKROPLASTIK DAN SUMBER PENCEMARAN

Peneliti dari Ecoton,Sofi Azilan, dalam paparan teknisnya, menerangkan bahwa dari semua jenis mikroplastik yang teridentifikasi, serat atau fiber merupakan jenis yang paling dominan ditemukan, disusul oleh filamen. Temuan ini memberikan petunjuk penting mengenai sumber utama pencemaran. “Membakar sampah plastik akan menghasilkan jenis mikroplastik fiber. Dari riset sebelumnya yang dilakukan di lokasi dekat tungku pembakaran sampah di Sidoarjo, menunjukkan jenis fiber mendominasi mikroplastik di udara sekitar daerah pembakaran sampah,” jelas Sofi. Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa praktik pembakaran sampah plastik secara terbuka, yang masih marak terjadi di beberapa kawasan, merupakan kontributor signifikan.

Namun, sumber pencemar tidak hanya berhenti pada pembakaran sampah. Para peneliti juga mengidentifikasi beberapa sumber utama lainnya yang turut menyumbang partikel mikroplastik ke atmosfer. Sumber-sumber tersebut antara lain adalah gesekan ban kendaraan bermotor dengan permukaan aspal yang melepaskan serat halus, limbah cair dari kegiatan laundry yang mengandung serat sintetis dari pakaian, timbunan sampah plastik yang terdegradasi secara alami di tempat pembuangan akhir maupun di lingkungan terbuka, serta emisi polusi dari kawasan industri dan kendaraan bermotor yang membawa partikel-partikel halus. Kombinasi dari semua aktivasi ini menciptakan sebuah “koktail” polusi plastik yang kemudian terangkat oleh angin dan arus udara ke atmosfer, untuk pada akhirnya turun kembali ke bumi bersama dengan air hujan.

 

KONTEKS REGIONAL: TEMUAN SERUPA DI MALANG RAYA

Temuan di Surabaya ini bukanlah sebuah insiden yang terisolasi.Ecoton, sebagai salah satu lembaga yang terlibat, sebelumnya telah melakukan penelitian serupa di wilayah Malang Raya. Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa mikroplastik juga telah terdeteksi dalam air hujan di kawasan tersebut, meskipun dengan tingkat konsentrasi yang berbeda. “Pada lima titik pengambilan sampel di Malang, konsentrasi tertinggi berada di Blimbing mencapai 98 partikel per liter,” ujarnya. Meski angka ini lebih rendah dari titik tertinggi di Surabaya, temuan ini tetap mengindikasikan adanya masalah sistemik yang lebih luas.

Rafika menambahkan penjelasan mengenai mekanisme distribusi partikel ini di atmosfer. “Saat masyarakat membakar sampah plastik, partikel mikroskopis plastik ikut terlepas ke udara bersama asap dan debu,” katanya. Partikel-partikel yang sangat ringan ini dapat terbawa angin dalam jarak yang cukup jauh, melintasi batas-batas administratif wilayah. Fenomena ini menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik di udara adalah masalah regional yang tidak bisa ditangani oleh satu kota saja, melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif dari berbagai daerah untuk mengatasi sumber pencemarannya.

 

BAHAYA DAN DAMPAK KESEHATAN

Mengacu pada temuan ini,kalangan akademisi memberikan penjelasan mendetail mengenai potensi risiko kesehatan yang mengintai masyarakat. Dosen Prodi Teknologi Laboratorium Medis FIK UM Surabaya, Vella Rohmayani, menegaskan bahwa temuan ini adalah bukti nyata bahwa mikroplastik telah menyebar ke hampir seluruh elemen lingkungan, termasuk siklus hidrologi. Vella memaparkan definisi operasional mikroplastik sebagai partikel plastik berukuran antara 0,5 hingga 5 milimeter dengan bentuk yang sangat beragam, seperti serat, fragmen, hingga granula.

Ia lebih lanjut membedakan sumber mikroplastik menjadi dua kategori: primer dan sekunder. Mikroplastik primer berasal langsung dari produk-produk konsumen seperti kosmetik (scrub) dan produk perawatan kesehatan, sementara mikroplastik sekunder berasal dari hasil degradasi atau fragmentasi sampah plastik makro yang terpapar cuaca dan radiasi matahari dalam waktu lama. “Air hujan dapat terkontaminasi karena partikel plastik terangkat ke atmosfer dan kembali turun saat hujan. Pembakaran sampah plastik dan pembuangan sampah sembarangan menjadi pemicu utama,” tutur Vella.

Mengenai dampak kesehatan, Vella memaparkan sejumlah risiko serius. Begitu terhirup atau tertelan, partikel mikroplastik yang berukuran mikroskopis dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada jaringan tubuh. Lebih berbahaya lagi, partikel ini dapat bertindak sebagai vektor yang membawa polutan organik persisten (POPs) dan logam berat masuk ke dalam tubuh. Dalam jangka panjang, akumulasi mikroplastik dalam tubuh diduga kuat dapat memicu gangguan pada sistem endokrin (hormon), masalah kesuburan dan reproduksi, komplikasi selama kehamilan, serta meningkatkan risiko penyakit kronis lainnya. “Air hujan yang mengandung mikroplastik tentu berbahaya bagi kesehatan, dapat menyebabkan risiko kontaminasi mikroplastik dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi menjadi lebih besar,” tegasnya, menekankan perluasan dampak melalui rantai makanan.

 

IMBAUAN PROTOKLOR KESEHATAN BAGI MASYARAKAT

Merespons temuan yang mengkhawatirkan ini,para peneliti dan akademisi merumuskan serangkaian imbauan protektif yang konkret bagi masyarakat Surabaya. Peneliti Growgreen, Shofiyah, yang juga mahasiswa Unesa, menyampaikan peringatan keras agar masyarakat tidak menganggap remeh temuan ini. “Ini harus menjadi warning untuk tidak membakar sampah terbuka, membuang sampah ke sungai, dan konsumsi plastik sekali pakai berlebihan,” tegasnya dengan nada serius.

Lebih lanjut, Shofiyah memberikan imbauan spesifik yang langsung terkait dengan interaksi dengan air hujan. “Semua lokasi penelitian tercemar mikroplastik. Kondisi ini mengkhawatirkan, dan akan jadi ancaman serius bagi kesehatan warga,” terangnya, sembari mengimbau agar warga tidak membuka mulut saat hujan turun untuk mencegah risiko tertelannya partikel mikroplastik yang terbawa dalam percikan air hujan.

Vella Rohmayani menambahkan daftar langkah pencegahan yang lebih komprehensif. Pertama, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik sangat direkomendasikan ketika beraktivitas di luar ruangan, tidak hanya untuk melindungi dari polusi udara biasa tetapi juga dari partikel mikroplastik. Kedua, selama hujan, penggunaan payung atau jas hujan yang menutupi tubuh menjadi penting untuk mencegah kontak langsung antara kulit dan air hujan yang berpotensi terkontaminasi. Bagi pengendara kendaraan bermotor, Vella menyarankan untuk mengaktifkan mode sirkulasi udara kabin yang tertutup (recirculation) selama hujan berlangsung untuk meminimalkan masuknya udara luar yang membawa partikel. Terakhir, ia sangat menganjurkan untuk segera mandi dan membersihkan seluruh tubuh dengan sabun setelah kehujanan atau tiba di rumah, untuk menghilangkan partikel-partikel mikroplastik yang mungkin menempel di kulit dan rambut.

 

REKOMENDASI KEBIJAKAN DAN DESAKAN KEPADA PEMERINTAH

Di tingkat kebijakan,para peneliti mendesak adanya intervensi yang lebih tegas dan sistematis dari Pemerintah Kota Surabaya dan pemerintah pusat. Vella Rohmayani menegaskan perlunya kerangka kebijakan yang komprehensif, mulai dari penerapan dan penegakan hukum yang ketat terhadap larangan pembakaran sampah terbuka, percepatan pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan, hingga pengaturan yang memaksa produsen untuk bertanggung jawab mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kemasan mereka.

Tim peneliti kolaboratif juga menyampaikan rekomendasi kebijakan tambahan yang lebih teknis dan operasional. Rekomendasi pertama adalah perlunya institusi pemerintah terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup, untuk melakukan uji kualitas udara secara reguler dengan parameter mikroplastik. Pemantauan berkala ini penting untuk memetakan tren pencemaran dan efektivitas berbagai kebijakan yang diterapkan. Rekomendasi kedua adalah penerapan sanksi sosial yang kreatif namun tegas, seperti publikasi foto atau data pelaku yang kedapatan membakar atau membuang sampah plastik secara sembarangan ke sungai dan kawasan pesisir. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan efek jera dan meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat.

 

KONTEKS CUACA DAN KETERKAITANNYA

Temuan riset ini mendapatkan konteks yang semakin mendesak dengan memperhatikan prakiraan cuaca untuk Kota Surabaya pada hari berikutnya,Minggu 16 November 2025. Badan Meteorologi memperkirakan seluruh wilayah kota akan diguyur hujan ringan sepanjang hari. Suhu udara diperkirakan berada dalam kisaran 24 hingga 31 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara yang sangat tinggi, antara 62 hingga 99 persen. Kondisi lembap ini, yang biasanya hanya diimbau untuk kewaspadaan terhadap genangan air, kini memiliki dimensi ancaman baru, yaitu potensi paparan mikroplastik melalui air hujan.

Imbauan standar bagi pengendara untuk berhati-hati karena jalanan licin, dan bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan untuk membawa payung atau jas hujan, kini memiliki makna ganda. Perlengkapan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penahan hujan, tetapi juga sebagai alat pelindung diri dari kontaminan yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Meskipun hujan ringan membawa dampak positif berupa hawa sejuk yang meredakan suhu panas kota, di baliknya tersembunyi risiko kesehatan yang memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

 

SOROTAN MASALAH SISTEMIK

Keseluruhan temuan dan analisis ini pada akhirnya menyoroti sebuah masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat yang bersifat sistemik.Kontaminasi mikroplastik dalam siklus air hujan di Surabaya adalah buah dari akumulasi pola konsumsi, perilaku pembuangan sampah, dan model pengelolaan limbah yang belum berkelanjutan. Ancaman ini tidak mengenal batas sosial ekonomi dan dapat mempengaruhi semua warga kota. Laporan ini berfungsi sebagai alarm bagi semua pemangku kepentingan, dari tingkat individu, komunitas, hingga pemerintah dan pelaku industri, untuk segera mengambil tindakan kolektif dan terkoordinasi. Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, menghapus praktik pembakaran sampah, dan memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk melindungi kesehatan warga dan keberlanjutan lingkungan hidup Kota Surabaya di masa depan.

Loading

EDITOR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten dilindungi © Tabir Lentera Nusantara. Dilarang menyalin tanpa izin.
↑ Top