Israel Dukung Terbuka Tumbangnya Rezim Teheran, Iran Balas Lewat Mobilisasi Massa

Pemerintah Iran tetapkan hari berkabung nasional bagi aparat keamanan di tengah tekanan ekonomi dan manuver psikologis Israel pasca-serangan nuklir.

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memberikan pidato di tengah ketegangan geopolitik dengan Israel.
Ayatollah Ali Khamenei menjadi simbol perlawanan Iran menghadapi tekanan ekonomi dan politik Israel.

DITULIS PADA: Selasa, 13 Januari 2026

SURABAYA — Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat krusial. Awal tahun 2026 menjadi penanda panasnya hubungan kedua negara. Israel mengambil langkah berani dengan mendukung gelombang protes di Iran secara terbuka. Pejabat tinggi Israel menyampaikan dukungan tersebut tanpa ragu. Pemerintah Iran segera merespons manuver agresif ini. Mereka melakukan konsolidasi internal secara besar-besaran. Teheran memobilisasi massa pro-pemerintah untuk turun ke jalan. Selain itu, pemerintah juga menetapkan hari berkabung nasional. Masa berkabung ini berakhir pada hari ini, Selasa (13/1/2026).

Situasi di Teheran dan kota besar lainnya kini sangat tegang. Kementerian Luar Negeri Israel menyuarakan simpati kepada demonstran secara eksplisit. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu turut memperkuat narasi tersebut. Tel Aviv membangun opini publik yang tajam. Mereka menyebut rezim Iran telah kehilangan legitimasi moral. Pemerintah Iran juga dianggap gagal total dalam mengelola ekonomi negara.

Strategi Memecah Belah dari Luar

Para pengamat menilai pernyataan Israel sebagai strategi oportunis. Israel ingin memanfaatkan momentum ketidakstabilan internal musuh bebuyutannya. Langkah ini bertujuan melemahkan pengaruh Iran di kawasan secara signifikan. Israel bisa mencapai tujuan ini tanpa perlu konfrontasi militer darat. Pemerintah Iran kini menghadapi tekanan ganda yang berat. Sanksi ekonomi global masih mencekik leher perekonomian mereka. Dampak kerusakan infrastruktur akibat serangan militer Juli lalu juga masih terasa.

Pemerintah Iran lantas mengambil langkah defensif. Langkah ini penting untuk mempertahankan legitimasi kekuasaan mereka. Otoritas di Teheran menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Masa berkabung berlaku sejak Minggu (11/1). Negara memberikan penghormatan resmi terhadap anggota pasukan keamanan. Para aparat tersebut tewas dalam bentrokan sengit selama dua pekan terakhir. Pemerintah Iran tidak hanya menetapkan hari berkabung. Otoritas keamanan juga menyematkan status “martir” (shahid) kepada aparat yang gugur.

Konsolidasi Kekuatan Teheran

Pelabelan status martir memiliki bobot simbolis yang kuat. Hal ini menyentuh sisi emosional dalam kultur politik Iran. Tujuannya adalah membakar sentimen nasionalis warga. Pemerintah ingin menyatukan basis pendukung di tengah badai kritik. Iran juga menggelar unjuk kekuatan (show of force) di jalanan. Demonstrasi tandingan untuk mendukung pemerintah terjadi secara masif.

Pejabat tinggi negara menghadiri aksi ini secara langsung. Menteri Luar Negeri hingga Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terlihat turun ke jalan. Kehadiran petinggi eksekutif mengirimkan sinyal politik yang tegas. Struktur pemerintahan Iran masih solid. Mereka tidak gentar menghadapi desakan mundur dari oposisi. Tekanan asing juga tidak menggoyahkan posisi mereka.

Di sisi lain, Israel memiliki kalkulasi intelijen yang matang. Analisis keamanan menunjukkan pola manuver Israel saat ini. Israel berupaya mengapitalisasi dampak serangan udara pada Juli 2025 lalu. Serangan selama 12 hari tersebut menargetkan fasilitas nuklir vital. Serangan ini meninggalkan lubang besar dalam pertahanan strategis Iran.

Taktik “Memangkas Rumput”

Mantan Kepala Dinas Intelijen Inggris (MI6), John Sawers, memberikan analisis mendalam terkait hal ini. Financial Times mempublikasikan analisis tersebut belum lama ini. Sawers menyebut pendekatan Israel sebagai strategi “memangkas rumput” (mowing the grass). Istilah militer ini merujuk pada taktik serangan berkala yang terukur. Tujuannya adalah mendegradasi kemampuan musuh secara bertahap. Israel tidak berniat melakukan pendudukan wilayah secara permanen.

Sawers menjelaskan pola serangan Israel lebih lanjut. Israel mungkin merasa perlu kembali melakukan aksi pemangkasan. Mereka bisa melancarkan serangan militer maupun serangan psikologis. Hal ini akan terjadi jika Iran terindikasi membangun kembali senjata nuklir. Tujuan strategis Israel tidak berhenti pada kerusakan fisik semata. Israel menargetkan dampak psikologis yang mendalam. Mereka menyasar struktur sosial masyarakat Iran. Target utamanya adalah kalangan kelas menengah yang berpendidikan tinggi.

Perang Psikologis Netanyahu

Israel berupaya melumpuhkan infrastruktur ekonomi Iran. Sektor minyak menjadi sasaran karena merupakan urat nadi negara. Israel berharap rakyat Iran merasa frustrasi dengan kondisi ini. Rakyat akan melihat ketertinggalan negara mereka dengan jelas. Negara-negara tetangga Arab justru terus melaju pesat secara ekonomi. Ketimpangan ini akan memicu kesadaran kolektif masyarakat. Rakyat akan sadar bahwa ideologi Revolusi Islam telah gagal membawa kesejahteraan. Mereka kemudian akan menuntut perubahan rezim dari dalam.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempertegas strategi ini. Ia menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan Newsmax. Netanyahu menekankan bahwa perubahan fundamental harus datang dari dalam. Invasi luar tidak bisa memaksakan perubahan tersebut secara efektif. Masyarakat Iran sendiri harus bergerak untuk mengubah nasib. Netanyahu menggunakan retorika yang sangat tajam. Ia menyebut “preman teologis” telah merebut masa depan rakyat. Istilah ini merujuk pada para mullah dan Ayatollah. Ia menegaskan pemahaman Israel atas penderitaan rakyat Iran. Israel bersimpati sepenuhnya terhadap perjuangan mereka melawan rezim.

Ancaman Ekonomi Lebih Berbahaya

Kementerian Luar Negeri Israel merilis pernyataan senada di media sosial. Mereka menggunakan akun X (Twitter) berbahasa Persia. Pernyataan provokatif itu muncul pada akhir Desember lalu. Rakyat Iran disebut sudah muak dengan rezim Khamenei. Mereka juga lelah dengan ekonomi yang kolaps. Tekanan eksternal dari Israel dan Amerika Serikat terus menguat. Demonstrasi internal juga terus bergejolak setiap hari.

Namun, para analis mengingatkan satu hal penting. Dunia tidak boleh meremehkan ketahanan struktur kekuasaan Iran. Model pemerintahan Republik Islam Iran memiliki lapisan pertahanan kuat. Sistem ini sangat berlapis dan kompleks. Kekuasaan tertinggi berada di tangan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia memiliki kontrol mutlak atas angkatan bersenjata dan peradilan. Presiden memegang ranah eksekutif pemerintahan. Dewan Syura dan Parlemen mendukung struktur ini secara politis. Banyak ahli menilai struktur ini sangat kokoh. Sistem saling mengunci satu sama lain dengan rapi. Aksi protes jalanan akan sulit menumbangkannya. Apalagi jika protes tersebut tidak memiliki koordinasi militer yang baik.

Peringatan Trita Parsi

Ancaman terbesar bagi rezim Teheran sebenarnya bukan manuver politik Israel. Kehancuran ekonomi sistemik adalah musuh nyata bagi mereka. Trita Parsi memberikan peringatan serius mengenai hal ini. Ia adalah pengamat Timur Tengah dari Quincy Institute for Responsible Statecraft. Parsi menyoroti rapuhnya fundamental ekonomi Iran saat ini. Kondisi ekonomi Iran sekarang jauh lebih lemah dari sebelumnya. Periode krisis sebelumnya tidak seburuk kondisi sekarang. Situasi geopolitik global juga jauh lebih tidak menguntungkan.

Parsi menyampaikan pandangannya kepada media Al Jazeera. Perbedaan sikap mulai terjadi di dalam sistem pemerintahan Iran. Keretakan internal mulai terlihat di kalangan elit. Krisis sumber daya memicu perpecahan tersebut. Pemerintah Iran tidak akan mampu meredam kerusuhan secara permanen. Pendekatan keamanan saja tidak akan cukup menyelesaikan masalah. Akar masalah kerusuhan adalah kesulitan ekonomi rakyat. Penyelesaian masalah ini sangat bergantung pada para pemimpin Iran. Mereka harus mencapai kesepakatan internasional segera. Pencabutan sanksi Amerika Serikat adalah kunci utamanya.

Potensi Runtuhnya Negara

Titik kritis hubungan kedua negara telah tercapai. Status quo antara Amerika Serikat dan Iran tidak mungkin bertahan lama. Sesuatu harus berubah secara signifikan dalam waktu dekat. Jika tidak, Iran berisiko jatuh ke dalam jurang keruntuhan negara (state collapse). Konfrontasi narasi ini memicu kekhawatiran luas di dunia internasional. Instabilitas di kawasan Teluk bisa semakin parah. Situasi bisa terus memburuk setiap saat tanpa peringatan.

Israel mungkin saja memutuskan untuk meningkatkan target serangan mereka. Infrastruktur minyak Iran bisa menjadi sasaran lanjutan yang logis. Langkah ini akan melumpuhkan logistik rezim Teheran secara total. Dampak global terhadap harga energi tidak akan terelakkan lagi. Keamanan jalur pelayaran internasional juga akan terancam serius. Dunia kini memantau perkembangan situasi dengan cermat. Gejolak di Iran bisa berujung pada reformasi internal yang damai. Kemungkinan lain adalah represi total oleh pemerintah. Skenario terburuk adalah eskalasi konflik terbuka di kawasan. Hal ini bisa menyeret kekuatan-kekuatan besar dunia ke dalam perang baru.

Loading

EDITOR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten dilindungi © Tabir Lentera Nusantara. Dilarang menyalin tanpa izin.
↑ Top