Enam Pohon Tumbang Pasca Hujan 2,5 Jam: Alarm Kegagalan Sistem Perawatan Aset Hijau Surabaya

Respons Reaktif Evakuasi Diapresiasi, Namun Pola Kejadian Berulang Ungkap Absennya Strategi Mitigasi Risiko dan Pemeliharaan Proaktif

Surabaya, 10 November 2025— Hujan lebat yang mengguyur Kota Surabaya selama dua setengah jam pada Senin (10/11/2025) sekali lagi menelanjangi kerapuhan infrastruktur hijau kota. Tidak seperti kejadian sebelumnya yang hanya melibatkan satu pohon, kali ini enam pohon dilaporkan tumbang serentak di berbagai lokasi strategis, termasuk Jalan Sulawesi, Jalan Dukuh Kaliwaru, Jalan Lingga, Jalan Mastrip, Jalan Manyar Sebrang Taman Flora, dan Perumahan Garden Regency di Nginden Semolo.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, M. Rokhim, mengonfirmasi bahwa seluruh pohon tumbang telah selesai dievakuasi oleh petugas. “Tim kami bergerak cepat untuk membersihkan semua lokasi dan memastikan jalan kembali lancar,” ujarnya.

Namun, di balik respons cepat tersebut, pemerhati kebijakan publik Bagus P. menyoroti pola berulang yang mengkhawatirkan. “Enam pohon tumbang dalam waktu singkat ini bukan kebetulan, melainkan gejala sistemik dari kegagalan perawatan preventif. Yang kita saksikan adalah puncak gunung es dari masalah yang sebenarnya sudah bisa diprediksi dan dicegah,” tegas Bagus.

Ia mempertanyakan konsistensi program audit kesehatan pohon yang seharusnya dilakukan secara berkala. “Pemkot punya data pohon tua dan rawan tumbang, tapi sejauh mana data itu dijadikan dasar aksi preventif? Apakah anggaran pemeliharaan sudah proporsional dibandingkan dengan gencarnya program penanaman pohon baru?” ujar Bagus.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa program penanaman popon baru yang gencar digalakkan untuk estetika kota justru kerap mengabaikan aspek perawatan pascatanam. Akibatnya, aset ekologis berubah menjadi ancaman keselamatan publik, terutama saat musim hujan tiba.

 

Menyikapi hal ini, Bagus menawarkan solusi strategis. “Pemkot perlu beralih dari paradigma reaktif ke pendekatan berbasis mitigasi risiko. Peringatan dini BMKG harusnya jadi pemicu aksi preventif, seperti inspeksi intensif di titik rawan sebelum hujan datang,” paparnya.

Langkah konkret yang disarankan meliputi pemetaan risiko komprehensif, adopsi teknologi pemeriksaan kesehatan pohon nondestruktif, dan optimalisasi tim reaksi cepat untuk inspeksi pra-bencana. “Kunci utamanya ada pada partisipasi warga. Masyarakat harus dilibatkan sebagai mata dan telinga dengan sistem pelaporan yang responsif,” tambah Bagus.

Keberuntungan masih menyertai Surabaya kali ini karena tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, enam pohon tumbang ini harus menjadi alarm keras bagi Pemkot untuk segera membenahi sistem perawatan aset hijau. Keselamatan warga tidak boleh lagi bergantung pada keberuntungan, tetapi pada sistem pengelolaan yang proaktif dan terukur.

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Tabir Lentera Nusantara!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top