Sofa dan Kasur Serbu Mesin Pompa Surabaya Siap-siap Hadapi Banjir

Pemkot Janji Tambah 5 Rumah Pompa Tapi Masih Banyak PR Besar yang Belum Kelar

SURABAYA-Waktu udah Masuk Pertengahan Tahun Pemerintah Kota Surabaya lagi sibuk nyiapin diri buat hadapi musim hujan yang katanya bakal maksimal November 2025 sampai Januari 2026. Mereka ngomongnya sih udah siap mau nambah lima rumah pompa air baru. Tapi, yang bikin warga miris, masalah lama kayak sampah sama infrastruktur yang bolong-bolong ternyata masih aja nggak tuntas.

Baru-baru ini aja, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya ngungkapin fakta yang bikin geleng-geleng. Pas hujan deras kemarin, petugas harus angkut sampah sebanyak 20 truk penuh cuma dari satu saluran aja, yaitu Kali Greges yang ngalir ke Bosem Morokrembangan. Yang ditemuin bukan cuma sampah biasa, tapi ada sofa, kasur bekas, helm, popok bayi, sampe baju-baju. Ini bukti jelas kalau imbauan larangan buang sampah ke kali selama ini kayak gak nancep sama sekali.

Kepala DSDABM, Syamsul Hariadi, ngakuin kalau sampah segede itu emang bisa bikin mesin pompa rusak total. Tapi yang patut dipertanyakan, ngapa ya Pemkot kayaknya lebih fokus ngurusin dampaknya daripada penyebabnya Dana dikeluarin buat bikin rumah pompa baru dan bayar petugas bersih-bersih 24 jam, tapi ngapa upaya nyegah sampahnya dari sumbernya malah kurang keliatan? Pola nunggu sampah numpuk dulu, baru dibersihin ini jelas-jelas boros duit dan tenaga.

Masalah infrastrukturnya juga nggak kalah pelik. Pemkot sendiri ngakuin bahwa tiga dari lima saluran air utama – Kerambangan, Kalianak, dan Sememi – sampai sekarang masih belum dipasangin pintu air buat cegah banjir rob. Artinya pertahanan penting buat wilayah pesisir masih punya celah besar yang bisa bikin banjir anytime. Klaim kesiapan jadi diraguin, soalnya fasilitas sepenting ini masih sebatas rencana prioritas bukan proyek yang lagi dikerjain.

Masih ada beberapa titik rawan genangan yang belum keurus. Daerah Tanjungsari contohnya, disebut-sebut belum punya rumah pompa dan pintu laut sama sekali. Sementara di kawasan Tenggilis, Margorejo, Prapen, sama Jemursari, genangan makin jadi karena tanahnya cekung dan proyek pembangunan di sana-sini pada nggak kelar-kelar. Di satu sisi pembangunan baru emang diperlukan, tapi di sisi lain proyek yang udah jalan malah bikin masalah baru.

Strategi nyalain pompa sebelum hujan – yang ngandelin peringatan dini BMKG – emang ide yang bagus. Tapi strategi secanggih apapun bakal percuma kalau infrastruktur pendukungnya belum lengkap dan budaya buang sampah sembarangan masih aja jadi kebiasaan.

Akhirnya yang terjadi tuh kayak paradoks: Pemkot sibuk nyiapin senjata buat perang lawan banjir, tapi dua musuh utamanya – infrastruktur yang bolong dan sampah yang numpuk – masih dibiarkan berkeliaran. Kesiapan Surabaya tahun ini bener-bener jadi ujian nyata: seberapa efektif kebijakan yang dibuat, dan seberapa becus pemerintah ngubah wacana jadi kerja nyata. Warga cuma bisa pasrah dan berharap, prediksi cuaca ekstrem nggak beneran bikin banjir makin parah.

 

Tim Investigasi: Tabir Lentera Nusantara

Editor. (Bgs/mt.sari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top