Berita Editorial Media TabirLenteraNusantara.com
Penulis: Redaksi | Tanggal: 20 Oktober 2025
Tahun Pertama dan Panggung Dunia
Satu tahun sudah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berjalan. Sejak resmi dilantik pada 20 Oktober 2024, geliat diplomasi Indonesia terlihat menonjol di berbagai forum internasional. Dalam sebelas bulan terakhir, Prabowo aktif berkeliling ke negara-negara mitra strategis membawa misi memperkuat posisi Indonesia dan menarik investasi besar-besaran.
Laporan dari sejumlah media ekonomi nasional menyebutkan, pemerintah berhasil mengamankan komitmen investasi lebih dari Rp700 triliun, termasuk Rp294 triliun dari hasil kunjungan ke enam negara pada November 2024 dan Rp437 triliun dari Arab Saudi pada Juli 2025.
Meski begitu, publik diingatkan agar tidak terbuai angka komitmen. Komitmen bukan realisasi — dan yang terpenting adalah apakah investasi itu benar-benar hadir dalam bentuk lapangan kerja, teknologi baru, serta peningkatan daya saing ekonomi nasional.
Ekonomi Nasional: Ambisi Besar di Tengah Kewaspadaan
Berbeda dari periode sebelumnya yang menitikberatkan pembangunan fisik, Prabowo menekankan arah kebijakan ekonomi baru: ketahanan nasional dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Salah satu langkah utama adalah pembentukan Danantara Indonesia, lembaga pengelola investasi negara (sovereign wealth fund) yang diharapkan menjadi motor pembiayaan pembangunan jangka panjang.
Dalam tiga bulan pertama, Danantara telah mengelola dana hingga US$10 miliar, dengan 80 persen diarahkan ke investasi dalam negeri. Para ekonom menilai langkah ini potensial, namun mengingatkan pentingnya tata kelola yang transparan dan bebas dari konflik kepentingan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2025 dan hingga 8 persen pada 2028. Target ini menunjukkan optimisme, tetapi dibutuhkan langkah konkret: peningkatan ekspor, reformasi birokrasi, dan peningkatan produktivitas industri.
Program Makan Bergizi Gratis: Harapan Besar, Tantangan Nyata
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi simbol kebijakan sosial Presiden Prabowo. Hingga pertengahan 2025, pemerintah mengklaim program ini telah menjangkau lebih dari 31 juta anak sekolah dan menciptakan sekitar 1,5 juta lapangan kerja baru di sektor pangan, pertanian, dan logistik.
Namun pelaksanaannya tidak tanpa kendala. Sejumlah daerah melaporkan keterlambatan pasokan dan kendala kualitas bahan makanan. Beberapa kasus teknis menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk memperkuat sistem pengawasan dan rantai distribusi.
Secara sosial, MBG dinilai membawa efek positif karena memperkuat ekonomi desa, mendorong produksi pangan lokal, dan menekan risiko stunting. Bila dikelola konsisten, program ini bisa menjadi warisan sosial besar pemerintahan Prabowo.
Energi dan Pembangunan Desa: Jalan Menuju Kemandirian
Di sektor energi, pemerintah memperluas program BBM Satu Harga dan membangun 40 titik distribusi baru di wilayah 3T. Kementerian ESDM mencatat, hingga Oktober 2025 telah ada 5.700 desa yang menikmati program listrik desa 24 jam.
Langkah ini penting untuk membuka akses ekonomi dan pendidikan di wilayah pedalaman. Namun, agenda besar menuju energi bersih nasional masih membutuhkan konsistensi kebijakan dan komitmen pendanaan yang kuat.
Pemerintah menargetkan 100 persen energi terbarukan pada 2035, tetapi pengamat menilai realisasinya memerlukan strategi jangka panjang yang lebih realistis dan sinergi lintas sektor.
Diplomasi Global: Indonesia Semakin Diperhitungkan
Dalam setahun terakhir, diplomasi Indonesia semakin berani tampil di kancah global. Prabowo aktif mendorong kerja sama dengan negara-negara BRICS dan memperkuat posisi Indonesia sebagai penyeimbang di tengah rivalitas kekuatan besar dunia.
Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB 2025 mendapat apresiasi internasional karena menekankan prinsip “netral aktif” dan solidaritas dunia ketiga. Meski begitu, klaim bahwa Indonesia kini “negara ketiga paling berpengaruh di dunia” tidak memiliki dasar ilmiah dan belum diverifikasi oleh lembaga internasional mana pun.
Kendati demikian, arah kebijakan luar negeri yang mandiri dan berdaulat tetap menjadi nilai positif yang memperkuat citra Indonesia di mata dunia.
Catatan Redaksi: Dari Janji Menuju Bukti
Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto memperlihatkan semangat, ambisi, dan arah kebijakan baru yang berbeda. Namun sebagaimana pengalaman banyak pemerintahan sebelumnya, tantangan utama kini terletak pada eksekusi dan bukti nyata.
Investasi besar, program sosial, dan diplomasi luar negeri yang aktif harus diikuti hasil konkret di dalam negeri: harga bahan pokok stabil, kesempatan kerja meningkat, dan masyarakat kecil merasakan manfaat langsung.
Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejelasan hasil dan kejujuran kinerja.
Di tahun kedua kepemimpinannya, publik menunggu pembuktian bahwa perubahan besar yang dijanjikan Prabowo benar-benar menyentuh kehidupan nyata rakyat Indonesia.
Kepercayaan publik dibangun bukan dari kata-kata, melainkan dari kerja nyata yang bisa dirasakan.
Copyright © 2025 TabirLenteraNusantara.com
Seluruh isi berita editorial ini menjadi tanggung jawab Redaksi. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruhnya tanpa izin tertulis dari redaksi.






