MODUS INVESTASI BODONG, BISNIS EKSPEDISI FIKTIF,

NUR LAILA DAN ROBIYATUN TIDAK TERBACA DI SIPP PN.SURABAYA.

Foto! Tuntutan kedua

Surabaya,–Sidang perkara pidana penipuan dan penggelapan yang mejerat Terdakwa Nur Laila dengan modus Investasi bodong, bisnis ekspedisi fiktif yang menjanjikan keuntungan tinggi hingga 8% setiap 2 minggu, baik pengiriman barang import maupun barang cargo,Tiga korban investasi bodong tersebut membeberkan kesaksiannya diruang Tirta PN.Surabaya.

Dalam Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fathol Rosyid, dari Kejari Surabaya, Menyatakan Terdakwa Nul Laila, melakukan tindak pidana,”Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain, melawan hak,memakai nama palsu, keadaan palsu, dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan – perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat atau menghapuskan piutang” “Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP.” ATAU – “Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 372 KUHP.”

Dalam agenda Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fathol Rosyid, dari Kejari Surabaya, Senin (17/11/2025),Namun pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN.Surabaya, tidak dapat terbaca, dalam Tuntutan yang tertera kosong, tidak tampak angka dalam Tuntutan terhadap para terdakwa tersebut.

Pada sidang sebelumnya, salah satu korban, Sri Suningsih, menuturkan bahwa ia menginvestasikan dana sebesar Rp 655 juta. Dari jumlah itu, terdakwa hanya kembali Rp 523 juta secara bertahap selama satu tahun, sementara Rp132 juta belum dikembalikan hingga kini. “Saya percaya karena dia bilang banyak temannya yang sudah dapat keuntungan,” ujar Sri di ruang sidang.

Korban lainnya, Fitria Arifin, mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 350 juta, sedangkan Ainur Rohman kehilangan sekitar Rp 600 juta. Mereka menyebut ada korban lain yang juga terjerat dengan nilai investasi lebih besar, masing-masing mencapai Rp1,4 miliar dan Rp 800 juta. Namun, hanya tiga korban yang akhirnya melapor dan bersaksi di persidangan.

Di luar persidangan, Sri menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan uang amanah yang seharusnya digunakan untuk usaha ekspedisi, namun justru dipakai terdakwa untuk keperluan pribadi. Ia sempat menerima keuntungan rutin sebesar delapan persen setiap dua minggu selama hampir setahun sebelum pembayarannya terhenti.

Terpisah, kuasa hukum para korban, Memo Alta Zebua, SH MH, menilai penyidik perlu menelusuri lebih jauh aliran dana di rekening Robiyatun. Menurut Memo, sebagian uang yang dikirim kliennya, Sri Suningsih, kepada Nur Laila ternyata diteruskan ke rekening Robiyatun sosok yang tidak pernah dikenal oleh korban.

“Pertanyaannya, mengapa rekening Robiyatun tidak ditelusuri? Padahal, salah satu pasal yang didakwakan mencakup unsur turut serta,” kata Memo. Ia menegaskan, penyidik seharusnya menelusuri jejak transaksi tersebut agar seluruh pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.

Jaksa Fathol Rosyid menjelaskan, terdakwa menawarkan skema investasi pengiriman barang di kawasan Perak, Surabaya. Setiap investor dijanjikan keuntungan delapan persen dari modal dalam jangka waktu 12 hingga 15 hari kerja. Untuk meyakinkan calon korban, Nur Laila menampilkan aktivitas pengiriman kontainer melalui status WhatsApp seolah bisnis tersebut benar-benar berjalan.

Hasil penyelidikan menunjukkan dana para korban tidak digunakan untuk bisnis ekspedisi sebagaimana dijanjikan. “Uang itu justru diserahkan kepada seseorang bernama Robiyatun dan digunakan untuk kebutuhan pribadi terdakwa,” katanya.

Total kerugian akibat perbuatan terdakwa diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar. Dalam sidang yang sama,Nur Laila membenarkan sebagian keterangan para korban.

Diketahui, untuk terdakwa Nur Laila,awalnya menghubungi Sri Suningsih (lewat WA), untuk memberi modal bisnis Ekspedisi pengiriman barang, dengan keuntungan 8% dari modal yang diberikan.Pengembalian modal 15 hari kerja, untuk kirim Import, 12 hari kerja untuk kirim barang Cargo, Lokasi usaha di Perak Surabaya.

Saksi Sri Suningsih percaya dan tertarik menanamkan modal (investasi uang modal bisnis expedisi pengiriman barang) kepada terdakwa, dan menyerahkan uang ke terdakwa bertahap, dengan Total Rp. 655.000.000,-dikirim transfer ke rek. terdakwa.

Terdakwa pernah memberikan uang keuntungan dan kembalian modal kepada Sri Suningsih dengan total
Rp. 523.000.000,- Sisanya Rp. 132.000.000,- belum dikembalikan.

Modal usaha pekerjaaan expedisi pengiriman barang, ternyata tidak benar (fiktif), uang tersebut oleh terdakwa tidak dipakai untuk pekerjaaan, namun diserahkan kepada Robiyatun, dipakai membayar hutang dan penuhi kebutuhan pribadinya.

Akibat perbuatan Terdakwa, Sri Suningsih mengalami kerugian sekitar Rp. 132.000.000,-

Foto : Terdakwa Nur Laila (kanan) dan Terdakwa Robiyatun (kiri), saat menjalani sidang diruang Tirta PN.Surabaya, SIPP PN.Surabaya, tidak terbaca Tuntutan untuk kedua terdakwa tersebut.

(bagus)

EDITOR

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top