Surabaya –Suasana penuh kebersamaan dan kearifan lokal menyelimuti wilayah Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Surabaya, saat warga bersama komunitas Tionghoa Kapasan menggelar acara Sedekah Bumi pada akhir pekan ini. Tradisi yang sarat makna ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan keselamatan, sekaligus mempererat tali persaudaraan lintas budaya dan agama di tengah kehidupan kota yang dinamis.
Tradisi Luhur yang Dihidupkan Kembali
Acara Sedekah Bumi yang digelar di halaman kelurahan Kapasan itu berlangsung meriah. warga sudah tampak bergotong royong menyiapkan tumpeng, jajanan tradisional, serta hiasan sederhana bernuansa merah dan kuning — warna yang juga mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang ritual adat, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kerukunan, dan rasa gotong royong. Dalam sambutannya, Lurah Kapasan” Soekarno, menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga dan komunitas Tionghoa Kapasan yang turut melestarikan tradisi turun-temurun ini.
“Sedekah bumi bukan sekadar seremonial. Ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus simbol harmoni antara manusia dan alam. Kami bangga, karena tradisi ini mampu menyatukan seluruh lapisan masyarakat Kapasan tanpa memandang latar belakang,” ujar Lurah Kapasan.
Wayang Kulit Jadi Daya Tarik dan Pemersatu Budaya
Malam harinya, acara Sedekah Bumi semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit yang digelar di depan Balai Kelurahan. Ratusan warga hadir memadati area pertunjukan, menikmati kisah klasik penuh nilai moral.
Irama gamelan berpadu dengan cahaya lampu minyak menambah suasana sakral dan nostalgis. Pagelaran wayang kulit ini juga menjadi simbol perpaduan budaya antara masyarakat Jawa dan Tionghoa di Kapasan, yang sejak dahulu dikenal sebagai kawasan dengan keberagaman etnis dan keagamaan yang harmonis.
“ ketua panitia Ronny Roharjo menyampaikan ” Kami warga Tionghoa ikut bangga bisa berpartisipasi dalam Sedekah Bumi ini. Wayang kulit bukan hanya hiburan, tapi warisan budaya yang mengajarkan kebijaksanaan dan nilai kehidupan. Ini membuktikan bahwa kebudayaan bisa menjadi jembatan persaudaraan,” ujar salah satu tokoh Tionghoa Kapasan.
Sinergi Lurah dan Warga: Gotong Royong Jadi Pondasi
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari kekompakan antara pihak Kecamatan kelurahan, RT/RW, tokoh agama, pemuda Karang Taruna, dan komunitas Tionghoa Kapasan. Semua bekerja sama tanpa sekat, menunjukkan semangat gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Surabaya.
Ketua RW ,Welly Sutanto mengatakan” menggelar berbagai kegiatan sosial seperti bersih lingkungan, pembagian sembako, dan doa bersama untuk keselamatan kampung. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Sedekah Bumi bukan hanya simbol budaya, tetapi juga momentum sosial yang menguatkan solidaritas warga.bebernya.
Makna Filosofis Sedekah Bumi di Tengah Modernitas
Sedekah Bumi di Kapasan menjadi oase spiritual di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat. Tradisi ini mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa pada akar budaya, rasa syukur, dan hubungan harmonis dengan alam.
Selain itu, keterlibatan lintas etnis memperlihatkan bahwa budaya bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat persatuan bangsa.
“Inilah Indonesia sesungguhnya. Di Kapasan, kami hidup berdampingan dalam keberagaman. Sedekah Bumi adalah cermin dari persatuan dan rasa saling menghormati,” ungkap Welly Sutanto
Motivasi dan Pesan Inspiratif dari Kapasan
Dari acara sederhana namun penuh makna ini, Bu Camat Simokerto Noer Vita.memotivasi” Bahwa masyarakat Kapasan mengirimkan pesan kuat kepada generasi muda: bahwa kemajuan tidak boleh membuat kita lupa akan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Kegiatan Sedekah Bumi diharapkan menjadi agenda tahunan tetap di Kelurahan Kapasan, tidak hanya sebagai kegiatan adat, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya dan penguatan karakter masyarakat.
Semangat Kapasan untuk Indonesia Harmonis
Sedekah Bumi dan pagelaran wayang kulit di Kapasan bukan sekadar acara tradisi, melainkan perwujudan nyata dari semangat persatuan, toleransi, dan cinta budaya.
Dalam harmoni antara doa, budaya, dan kebersamaan, masyarakat Kapasan menegaskan bahwa kebhinekaan bukan sekadar semboyan, tetapi napas kehidupan yang terus dijaga dan dirayakan bersama.
“Budaya menyatukan, gotong royong menguatkan. Dari Kapasan, kita belajar bahwa menjaga tradisi adalah menjaga jati diri bangsa.”tegas Ibu Noer Vita.
Editor/Lutfi






