Status Awas Semeru Bertahan, Operasi Modifikasi Cuaca Dikebut Demi Cegah Banjir Lahar di Lumajang

Masa tanggap darurat resmi diperpanjang hingga 2 Desember 2025 seiring ancaman ganda erupsi magmatik dan bencana hidrometeorologi yang menuntut intervensi teknologi cuaca.

Kolom abu vulkanik tebal berwarna abu-abu gelap membubung tinggi dari Gunung Semeru di Jawa Timur, terlihat dari kejauhan dengan latar depan hamparan lahan hijau dan pepohonan tropis di lereng gunung
Aktivitas erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi ratusan meter dari puncak. Gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa ini telah mencatat 40 kali letusan dalam sepekan terakhir hingga 27 November 2025, memicu evakuasi lebih dari 1.000 warga dan penutupan akses pendakian. Status gunung ditetapkan pada Level IV (Awas) oleh PVMBG dengan zona bahaya diperluas hingga 20 kilometer di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan

LUMAJANG, Jawa Timur – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih menunjukkan intensitas tinggi pada periode pengamatan 26 hingga 27 November 2025, memaksa otoritas berwenang mempertahankan status Level IV (Awas). Erupsi yang terjadi secara fluktuatif disertai ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin telah memicu respons cepat pemerintah pusat dan daerah. Sejak Rabu (26/11), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memecah konsentrasi hujan di hulu sungai yang berpotensi membawa material vulkanik ke permukiman penduduk di Kabupaten Lumajang. Langkah ini diambil bersamaan dengan keputusan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk memperpanjang masa Tanggap Darurat Bencana hingga 2 Desember 2025 guna memaksimalkan penanganan ratusan pengungsi dan perbaikan infrastruktur vital yang lumpuh.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa dinamika di kawah Jonggring Saloko masih sangat aktif. Berdasarkan data pengamatan periode 26-27 November 2025, seismograf merekam rata-rata 40 hingga 41 kali gempa letusan setiap enam jam. Gempa letusan ini memiliki amplitudo berkisar antara 10 hingga 22 milimeter dengan durasi yang cukup panjang, yakni 45 hingga 142 detik, mengindikasikan adanya pelepasan energi yang signifikan dari dalam tubuh gunung. Secara visual, meskipun puncak gunung kerap tertutup kabut tebal, teramati kolom abu berwarna putih hingga kelabu pekat membumbung setinggi 500 hingga 1.000 meter di atas puncak, yang kemudian terbawa angin lemah ke arah timur dan barat daya. PVMBG juga mencatat adanya gempa vulkanik dalam (VA) serta gempa guguran yang menandakan ketidakstabilan material di area kawah.

Merespons potensi bahaya lahar dingin yang dapat memperparah kerusakan, pemerintah menerapkan strategi mitigasi berbasis teknologi. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) difokuskan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah hulu Gunung Semeru. Operasi ini dikendalikan dari Lanudal Juanda, Surabaya, menggunakan pesawat jenis Cessna Caravan yang mampu bermanuver di area pegunungan. Hingga Kamis (27/11) siang, tercatat telah dilakukan empat sorti penerbangan dengan menyemaikan total 4 ton (4.000 kg) garam (NaCl) ke dalam awan-awan potensial. Langkah intervensi ini didasarkan pada analisis meteorologi yang menunjukkan adanya anomali cuaca berupa Gelombang Rossby Ekuator dan nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, yang berpotensi memicu pembentukan awan hujan masif di sekitar area bencana.

Di lapangan, dampak fisik akibat erupsi yang dimulai sejak 19 November lalu sangat signifikan. Bupati Lumajang, Indah Amperawati, dalam laporannya kepada Tim Pengawas DPR RI, mengungkapkan bahwa kerusakan terparah terjadi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Sebanyak 232 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan kategori sedang hingga berat akibat tertimbun material vulkanik. Kerusakan infrastruktur juga melumpuhkan akses mobilitas warga; jalan sepanjang 1.000 meter di Supiturang tertutup material, dan saluran drainase vital mengalami kerusakan parah. Selain itu, sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi warga turut terpukul dengan kerusakan lahan seluas 204,63 hektare, sementara satu fasilitas pendidikan, satu fasilitas kesehatan, dan satu gardu induk PLN dilaporkan rusak berat.

Meskipun kerusakan fisik tergolong masif, Timwas Penanganan Bencana DPR RI mengapresiasi capaian nol korban jiwa (zero casualty) dalam peristiwa kali ini. Ketua Timwas, M. Husni, menyatakan bahwa ketiadaan korban jiwa merupakan bukti kesiapsiagaan warga yang telah teredukasi dengan baik pasca-bencana tahun-tahun sebelumnya, serta efektivitas sistem peringatan dini yang dibangun BNPB. Namun, terdapat tiga orang warga yang dilaporkan mengalami luka berat dan kini tengah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Dr. Haryoto.

Situasi pengungsian masih dinamis dengan jumlah warga yang mengungsi mencapai sekitar 957 jiwa. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kecamatan Pronojiwo sebanyak 852 jiwa dan Kecamatan Candipuro sebanyak 264 jiwa. Data demografis di salah satu titik pengungsian, SMPN 02 Pronojiwo, menunjukkan banyaknya kelompok rentan, termasuk 68 lansia, 36 anak-anak, 13 balita, dan 2 bayi, yang membutuhkan penanganan spesifik. Bantuan logistik terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk Polri yang menyalurkan kebutuhan bayi, serta konsorsium perbankan Sekarkijang yang memberikan bantuan senilai Rp 531 juta.

Terkait rencana pemulihan jangka panjang, Bupati Indah Amperawati menegaskan bahwa relokasi bagi 232 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal akan dilakukan dengan pendekatan humanis. Lokasi hunian baru direncanakan tetap berada di wilayah Kecamatan Pronojiwo, namun di zona yang aman secara geologis. Keputusan ini diambil untuk menjaga keberlanjutan mata pencaharian warga yang mayoritas adalah petani dan peternak, sehingga mereka tidak perlu kembali ke zona merah hanya untuk bekerja. Sementara itu, upaya normalisasi aliran Sungai Besuk Kobokan untuk mencegah luapan lahar masih terkendala cuaca dan material panas. Dari target pengerukan sepanjang 2.500 meter, baru sekitar 500 meter yang berhasil diselesaikan.

Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi rekomendasi PVMBG, yakni tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari puncak dan 20 km di sektor tenggara (sepanjang Besuk Kobokan), serta mewaspadai potensi awan panas guguran dan lahar di sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru.

EDITOR

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top