Lumajang — Gunung Semeru di Jawa Timur masih menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi hingga hari ini, dengan status Level IV (Awas) yang tetap dipertahankan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Puncak krisis terjadi pada Rabu, 19 November 2025, dengan erupsi signifikan yang memuntahkan kolom abu setinggi 2 kilometer dan meluncurkan awan panas guguran sejauh 13 kilometer. Meski erupsi magmatik awal telah mereda, ancaman terbesar kini beralih ke bahaya sekunder, yaitu banjir lahar dingin yang dipicu oleh curah hujan intensif, yang telah menyebabkan tanggul jebol dan mengisolasi sejumlah permukiman.
Kronologi erupsi menunjukkan eskalasi yang cepat. Aktivitas dimulai pada pukul 14:13 WIB, dan dalam waktu kurang dari tiga jam, status gunung resmi dinaikkan ke level tertinggi. “Kami mencatat amplitudo erupsi mencapai maksimum 37 mm, yang mengindikasikan pelepasan energi kinetik yang masif,” jelas seorang vulkanologis dari PVMBG. Aktivitas tersebut tidak berhenti dalam satu hari. Data seismik terbaru pada periode 20-21 November mencatat 215 gempa letusan, dan pada pengamatan tanggal 22 November, masih tercatat 157 gempa letusan, membuktikan bahwa sistem magmatik di bawah Semeru masih sangat aktif dan dinamis.
Ancaman nyata pascaeupsi kini datang dari interaksi antara material vulkanik lepas yang menumpuk di lereng dengan curah hujan. Pada Jumat, 21 November, hujan deras memicu mobilisasi material tersebut menjadi banjir lahar dingin yang menghancurkan. Sebuah tanggul sepanjang 150 meter dengan ketinggian 6 meter di Sungai Regoyo, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, jebol total. “Kejadian banjir pada 21 November bukan disebabkan oleh letusan magmatik baru, melainkan murni konsekuensi hidrometeorologi dari hujan yang memobilisasi endapan yang ada,” tegas Satriyo Nurseno dari Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur. Jebolnya tanggul ini mengancam langsung 1.211 kepala keluarga dan sekitar 30 hektare lahan pertanian produktif di sekitarnya.
Di sektor lain, krisis ini juga menguji sistem keselamatan bagi pendaki. Sebanyak 187 orang, termasuk pendaki, petugas Taman Nasional, dan pemandu, sempat terjebak di area Ranu Kumbolo. Evakuasi tidak dapat dilakukan pada malam hari karena medan yang gelap, licin, dan rawan longsor. Keputusan diambil untuk meminta mereka bermalam dan baru dievakuasi ke Ranupani pada pagi harinya, 20 November. Seluruh orang berhasil diturunkan dengan selamat, menunjukkan koordinasi yang efektif antara jagawana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan tim SAR. Sejak peristiwa tersebut, kegiatan pendakian menuju Ranu Kumbolo ditutup sementara hingga keadaan dinyatakan benar-benar aman.
Sementara itu, di tingkat komunitas, kegagalan Sistem Peringatan Dini (EWS) menjadi sorotan. Beberapa warga di desa-desa zona merah, seperti Supiturang dan Sumbersari, melaporkan bahwa sirene peringatan tidak berbunyi saat awan panas mulai meluncur. Investigasi awal mengungkap bahwa beberapa perangkat peringatan dini telah rusak dan tidak berfungsi selama bertahun-tahun, mengakibatkan warga bergantung pada teriakan dan komunikasi dari mulut ke mulut untuk memulai evakuasi. “Kami baru menyadari erupsi sudah keluar setelah melihat orang-orang berlarian,” tutur seorang warga Saidy, menggambarkan kepanikan yang terjadi akibat ketiadaan peringatan resmi yang andal.
Menyikapi kondisi darurat ini, PVMBG telah mengeluarkan rekomendasi keamanan yang ketat. Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah dan di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 20 kilometer. Di luar zona itu, warga diimbau untuk tidak mendekat dalam jarak 500 meter dari tepi sungai karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar. Rekomendasi ini dibuat untuk mencegah korban jiwa, mengingat dalam erupsi kali ini, meski tidak ada korban jiwa, tercatat tiga orang mengalami luka bakar berat dan 17 lainnya luka-luka. Para korban luka tersebut, termasuk sepasang suami-istri dari Kediri, terluka karena tergelincir ke dalam material panas saat melintas di area Gladak Perak dengan sepeda motor.
Fokus jangka pendek pemerintah daerah kini adalah pada perbaikan infrastruktur kritis yang rusak, terutama tanggul di Sungai Regoyo, sebelum puncak musim hujan tiba. Sementara untuk jangka panjang, revitalisasi total sistem peringatan dini dan diversifikasi ekonomi bagi warga yang tinggal di zona bahaya menjadi agenda mendesak. Erupsi Semeru 2025 sekali lagi mengajarkan bahwa di balik gunung yang megah, selalu ada konsekuensi geomorfologis yang panjang, di mana bahaya tidak berakhir ketika letusan sudah reda.






