Hujan 2,5 Jam Bikin 8 Titik Surabaya Tergenang

DSDABM Disorot, Pemerhati Nilai Drainase Kota Tak Efektif Meski Anggaran Besar

Logo resmi Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya
Logo resmi Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya sebagai instansi utama yang bertanggung jawab dalam pengelolaan drainase dan infrastruktur air kota

Surabaya – Hujan deras yang mengguyur hampir seluruh wilayah Surabaya selama sekitar dua setengah jam pada Rabu siang (29/10/2025) menyebabkan sedikitnya delapan titik jalan tergenang air. Ketinggian air di beberapa lokasi mencapai 30 sentimeter dan membuat arus lalu lintas tersendat. Petugas dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) bersama sejumlah instansi lain langsung turun ke lapangan untuk melakukan penyedotan air dan pembersihan saluran.

Kepala BPBD Surabaya, Irvan Widyanto, mengatakan laporan genangan masuk dari berbagai ruas jalan utama. Beberapa di antaranya adalah Jalan Wisma Tengger, Ngagel Kebonsari (depan SMPN 12), Jalan Bung Tomo, Jalan Pregolan, Jalan Srikana, Jalan Kombes Pol M Duryat, Jalan Prof Dr Moestopo (depan PDAM), dan Jalan Basuki Rahmat (depan Yamaha). Ketinggian air bervariasi antara 15 hingga 30 sentimeter dan baru surut beberapa jam setelah hujan reda. “Petugas DSDABM sudah melakukan penyedotan dan pembersihan di lapangan bersama DPKP dan DLH,” ujar Irvan.

Beberapa pengendara mengaku kesulitan melintas karena air menggenang cukup lama. Salah satunya, Lian (24), warga Kertajaya, mengatakan sempat terjebak di tengah kemacetan karena lampu lalu lintas di kawasan itu mati saat hujan deras turun. “Tadi sempat padam, semua kendaraan berhenti, jadi macet total,” ujarnya. Kondisi serupa juga terjadi di Jalan Basuki Rahmat, di mana genangan cukup tinggi membuat kendaraan roda dua harus berjalan pelan.

 

Kondisi jalan tergenang air di Surabaya akibat hujan deras pada Rabu siang, 29 Oktober 2025
Arus lalu lintas tersendat akibat genangan air di sejumlah titik Surabaya. Petugas DSDABM bersama instansi lain melakukan penyedotan air dan pembersihan saluran.

Peringatan mengenai potensi cuaca ekstrem sebenarnya sudah disampaikan oleh BMKG Juanda sejak pekan lalu. Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa sebagian wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya, telah memasuki awal musim hujan dengan potensi hujan lebat disertai angin kencang. Fenomena cuaca tersebut dipengaruhi oleh gangguan atmosfer seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin yang memicu pembentukan awan hujan tebal. “Suhu muka laut di sekitar Selat Madura yang cukup hangat juga turut mendukung pertumbuhan awan konvektif,” kata Taufiq.

Namun, peringatan itu tampaknya belum direspons cepat oleh pemerintah kota. Genangan yang muncul kali ini terjadi di titik-titik yang sebenarnya sudah dikenal sebagai wilayah rawan. Warga menilai, penanganan genangan di Surabaya seolah masih berjalan dengan pola lama—baru bergerak setelah genangan muncul. Padahal, di atas kertas, Surabaya memiliki sistem drainase dan infrastruktur air yang diklaim semakin modern setiap tahun.

Pemerhati kebijakan publik, Bagus P., menilai kondisi ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan manajemen pengelolaan air di Surabaya. Menurutnya, tanggung jawab utama penanganan genangan dan banjir berada di bawah Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), bukan instansi lain yang hanya membantu saat kejadian. “Kalau hujan dua jam saja bisa membuat delapan titik tergenang, berarti sistem drainase kita tidak berfungsi maksimal. Ini bukan semata karena hujan deras, tapi karena pemeliharaan saluran air tidak dilakukan secara rutin dan terukur,” ujarnya.

Bagus juga menyoroti alokasi anggaran besar yang dimiliki DSDABM dalam APBD 2025. Anggaran tersebut mencakup normalisasi saluran, pengadaan dan perawatan pompa penyedot, hingga pembangunan gorong-gorong baru di beberapa titik. Namun, hasil di lapangan belum sebanding dengan dana yang digelontorkan. “Anggarannya besar, tapi kalau genangan tetap muncul di titik yang sama tiap tahun, masyarakat wajar bertanya kemana sebenarnya efektivitas penggunaan anggaran itu,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keterbukaan data terkait kondisi drainase kota. Menurutnya, DSDABM perlu membuka data publik tentang jumlah pompa yang aktif, kapasitas saluran utama, jadwal pembersihan rutin, serta evaluasi penanganan setiap musim hujan. “Kota besar seperti Surabaya seharusnya punya sistem pemantauan air yang bisa diakses publik. Dengan begitu, masyarakat ikut tahu wilayah mana yang rawan dan bagaimana upaya pencegahannya,” tambahnya.

Selain itu, Bagus menilai koordinasi antarinstansi di lapangan masih bersifat reaktif. Dinas Lingkungan Hidup, DPKP, dan BPBD memang ikut membantu penanganan genangan, namun tugas utama perencanaan dan kesiapan teknis tetap berada pada DSDABM. “DLH dan BPBD itu hanya membantu. Yang punya tanggung jawab memastikan air tidak menggenang adalah DSDABM. Maka perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja dan perawatan saluran,” tegasnya.

Di lapangan, petugas gabungan masih melakukan pembersihan lumpur dan sampah dari saluran yang tersumbat hingga Rabu malam. Meski air sudah surut, beberapa warga berharap kejadian seperti ini tidak terus terulang setiap musim hujan. “Kalau hujan deras selalu begini, berarti ada yang salah dengan salurannya,” kata Gerald (30), warga Ngagel.

Redaksi Tabir Lentera Nusantara masih berupaya mendapatkan tanggapan resmi dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya terkait langkah jangka panjang yang akan dilakukan untuk mencegah genangan berulang di titik-titik tersebut. (/EK.>)

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Tabir Lentera Nusantara!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top