Surabaya — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara resmi telah mengalokasikan dana sebesar Rp47 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2026 untuk mendukung kreativitas dan aktivitas anak muda atau Generasi Z. Kebijakan yang diungkapkan pada Kamis (27/11/2025) ini akan direalisasikan dengan menyalurkan dana sebesar Rp5 juta kepada setiap Rukun Warga (RW) di Surabaya setiap bulannya. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mengingatkan agar anggaran besar ini menjadi investasi jangka panjang yang tepat guna bagi masa depan Kota Pahlawan.
“Anggaran ini harus benar-benar digunakan untuk pembinaan generasi muda. Karena kalau kita bicara generasi muda, itu berarti kita bicara masa depan Surabaya,” tegas Fathoni dalam keterangan tertulisnya. Politikus Golkar tersebut menekankan pentingnya diferensiasi program agar sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah, sehingga tidak seragam dan membosankan. Menurutnya, kawasan religius seperti Ampel dapat diarahkan ke wirausaha wisata religi, sementara daerah seperti Gayungan atau Rungkut membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Guna memastikan efektivitas program, Fathoni menegaskan peran camat dalam mengidentifikasi kebutuhan pemuda secara spesifik menjadi kunci. Ia juga mengingatkan agar wadah pelaksana seperti Karang Taruna tetap netral dan tidak dicemari kepentingan politik praktis. “Saya berharap Karang Taruna menjadi jembatan kebutuhan pemuda, tapi harus bebas dari kepentingan politik,” jelasnya.
Mekanisme penyaluran dana akan dilakukan melalui pengajuan proposal dari anak muda di tingkat RW ke kelurahan, yang kemudian diverifikasi oleh kecamatan. DPRD Surabaya akan melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaannya. Fathoni memberikan peringatan keras, “Kalau nanti kegiatan di semua RW sama semua, ya kami minta anggarannya dievaluasi di APBD Perubahan. Kalau hanya seremonial, eman (sayang).”
Sebagai contoh, Fathoni menggambarkan potensi program yang bisa dikembangkan. Di kawasan pusat kota, pelatihan digital marketing dinilai strategis. Sementara di wilayah timur yang banyak terdapat tambak, pelatihan pemasaran hasil perikanan berbasis teknologi akan lebih bermanfaat. Untuk daerah rawan konflik, literasi digital dapat difokuskan untuk mencegah hoaks dan meminimalisir tawuran. “Tujuannya meningkatkan skill generasi muda agar mereka menjadi kader pelopor kemajuan Surabaya,” ucapnya.
Kebijakan anggaran ini berawal dari usulan anak muda dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, sebelumnya menjelaskan bahwa program yang diajukan harus benar-benar berasal dari aspirasi Gen Z di masing-masing lingkungan. “Gen Z ini tidak bisa dibuatkan permainan masa lalu seperti engklek. Mereka punya keinginan sendiri, dan bisa mengajukan ke lurah dan camat untuk dievaluasi,” papar Eri.
Selain berasal dari kebutuhan anak muda, proposal kegiatan juga wajib memberikan dampak positif yang jelas bagi masyarakat di RW setempat. Proses penilaian akan dilakukan secara terbuka oleh lurah, camat, dan perangkat RT/RW. Wali Kota berharap program ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kreativitas anak muda sejak dari lingkungan terdekat. “Surabaya ini dibangun oleh kekuatan anak muda. Maka dimulailah dari RW. Yang tua juga harus memberi kesempatan agar anak muda difasilitasi,” pungkas Eri.





