Dongeng dan Boneka Ayis Sukses Tanamkan Pendidikan Karakter di SDN Jatikramat 6 Bekasi

Metode pembelajaran interaktif ini berhasil menggantikan ceramah formal dengan dunia cerita yang menyenangkan dan mudah diterima anak-anak.

Pendongeng Kak Harris dan boneka Ayis saat tampil di hadapan ratusan siswa SDN Jatikramat 6 Bekasi dalam kegiatan "Pengarahan Kenakalan Anak Melalui Dongeng".

BEKASI tabirlenteranusantara.com — Ratusan siswa SDN Jatikramat 6 di Jatiasih, Bekasi, riuh oleh tawa dan kegembiraan saat Pendongeng Nasional Harris Rizki atau Kak Harris menghadirkan metode pendidikan karakter unik melalui kegiatan “Pengarahan Kenakalan Anak Melalui Dongeng”. Acara yang diselenggarakan di sekolah tersebut ini berhasil menyentuh tidak hanya para siswa, tetapi juga guru dan orang tua yang hadir, dengan pendekatan edukatif yang ceria dan jauh dari kesan kaku.

Kak Harris langsung memancing rasa penasaran siswa melalui dialog interaktif, tanpa mengandalkan ceramah atau aturan formal. Dengan memainkan suara, gerakan tubuh, dan humor khas, ia berhasil mengajak anak-anak masuk ke dalam alur dongeng “Raka dan Tiga Peringatan Langit”, yang mengisahkan seorang anak yang belajar memahami dampak dari kenakalan kecil seperti mengejek teman dan membantah guru. “Anak-anak tidak hanya mendengarkan, mereka ikut terhanyut dalam cerita seperti menonton film,” ujarnya tentang metode tersebut.

Suasana semakin hidup ketika boneka ikonik pendamping dongeng, Ayis, muncul di hadapan siswa. Dengan suara lembut dan tingkah polos, Ayis menyampaikan pesan moral tentang pentingnya meminta maaf, menghargai teman, dan menolak ajakan buruk. Interaksi ini berhasil membuat para siswa larut dan secara serentak berjanji untuk lebih mudah meminta maaf apabila melakukan kesalahan.

Para guru yang menyaksikan acara memberikan apresiasi tinggi. Salah satu guru, Bu Suryani, mengungkapkan bahwa anak-anak yang biasanya sulit untuk duduk tenang, kali ini mampu menikmati sesi dengan antusias. “Kegiatan ini sangat sesuai dengan tantangan zaman, di mana anak-anak lebih tertarik pada konten visual dan interaktif dibandingkan ceramah biasa,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari orang tua siswa. Bu Endang, salah satu wali murid, mengakui bahwa pesan moral lebih mudah diserap ketika disampaikan melalui media yang menyenangkan. “Melalui boneka Ayis, anak-anak lebih terbuka dan menerima masukan dengan hati yang ringan,” ujarnya.

Puncak acara terjadi pada sesi refleksi, di mana Kak Harris memberi kesempatan siswa untuk mengakui kesalahan yang pernah dilakukan. Banyak siswa secara jujur mengangkat tangan dan mengaku pernah berkata kasar atau malas belajar, lalu berkomitmen untuk memperbaiki diri. Menjelang penutupan, ratusan siswa berebut foto bersama Kak Harris dan boneka Ayis, menunjukkan betapa berkesannya kegiatan ini.

Kak Harris menegaskan bahwa dongeng merupakan jembatan komunikasi yang tak lekang oleh zaman. “Anak-anak lebih mudah menerima pesan melalui cerita yang memancing rasa ingin tahu, humor, dan emosi,” jelasnya. Kegiatan di SDN Jatikramat 6 ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat disampaikan secara non-formal, dengan pendekatan dari hati ke hati, menjadikan kebaikan sebagai sesuatu yang membanggakan.

EDITOR

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen
Penulis: Bagus Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top