Bencana Longsor dan Banjir Serentak Landa 13 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara

Korban jiwa mencapai 37 orang dengan 52 masih hilang, tim SAR gabungan berjibaku buka akses logistik terhambat cuaca ekstrem

Banjir bandang merendam permukiman warga dengan material kayu dan puing berserakan di Sumatera Utara, 27 November 2025.
Kondisi permukiman warga yang terendam banjir bandang di salah satu wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara, Rabu (27/11/2025). Banjir membawa material kayu, bambu, dan puing-puing yang menimbun area pemukiman. Bencana yang melanda 13 kabupaten/kota ini mengakibatkan 37 orang meninggal dunia, 52 orang hilang, ratusan rumah rusak, dan ribuan warga mengungsi.

Sumatera Utara — Bencana tanah longsor dan banjir secara serentak melanda 13 kabupaten/kota di Sumatera Utara pada 27 November 2025, menewaskan 37 orang dan mengakibatkan 52 lainnya masih dinyatakan hilang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 4.035 warga mengungsi akibat ratusan rumah rusak dan terendam, serta puluhan ruas jalan dan jembatan putus terisolir. Bencana yang dipicu cuaca ekstrem akibat pengaruh dua siklon tropis ini mendorong Polda Sumut mengerahkan 1.030 personel gabungan untuk operasi pencarian dan evakuasi di tengah medan berat.

Berdasarkan data terpadu Polda Sumut dan BPBD per 27 November, sebaran korban jiwa terkonsentrasi di tiga wilayah utama. Tapanuli Selatan mencatat korban tertinggi dengan 17 orang meninggal, disusul Kota Sibolga (8 orang), dan Tapanuli Tengah (4 orang). Wilayah lain yang terdampak signifikan meliputi Humbang Hasundutan (4 orang), Pakpak Bharat (2 orang), Mandailing Natal, Nias Selatan, Deli Serdang, Langkat, Kota Padang Sidempuan, Binjai, dan Medan. Proses identifikasi korban masih terus berlangsung di sejumlah rumah sakit rujukan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis bencana ini dipicu fenomena cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Siklon Tropis Senyar (bekas Bibit Siklon 95B) di Selat Malaka. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan dalam rilis resminya bahwa kedua sistem siklon ini membentuk pumpunan angin yang memperkuat pertumbuhan awan hujan skala luas. “Kondisi ini menyebabkan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berdurasi panjang, disertai angin kencang di sebagian besar Sumatera Utara,” tegas Guswanto.

Di lapangan, tim SAR gabungan menghadapi kendala berat akibat rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan. Kepala Basarnas Sumut, Muhammad Rizal, menyatakan bahwa operasi pencarian difokuskan pada zona-zona rawan di aliran sungai dan lereng curam. “Kami telah membagi tim dalam 10 sektor pencarian dengan melibatkan 215 personel terlatih, didukung helikopter dan perahu karet untuk menjangkau daerah terisolir,” ujarnya. Kondisi medan yang masih rawan longsor susulan memperlambat evakuasi korban.

Dari sisi lingkungan, Walhi Sumatera Utara menyoroti faktor antropogenik yang memperparah dampak bencana. Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Uli Arta Siagian, menyatakan bahwa degradasi hutan di daerah tangkapan air dan alih fungsi kawasan berlereng turut berkontribusi terhadap tingginya intensitas longsor dan banjir bandang. “Analisis spasial kami menunjukkan 67% titik longsor terjadi di kawasan dengan aktivasi pertambangan dan perkebunan monokultur,” papar Uli.

Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary PT Agincourt Resources, Rudi Kurniawan, membantah keterkaitan operasi tambang dengan banjir bandang. “Lokasi terdampak banjir bandang berada di DAS Garoga yang secara hidrogeologi tidak terhubung dengan DAS Aek Pahu tempat kami beroperasi,” jelas Rudi melalui keterangan tertulis. Perusahaan mengklaim telah mengerahkan tim tanggap darurat dan mendirikan posko bantuan bagi pengungsi.

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, memimpin rapat koordinasi darurat dan menetapkan status siaga bencana untuk 13 kabupaten/kota terdampak. “Kami menyiagakan dua helikopter untuk distribusi logistik ke daerah yang belum tertembus darat, khususnya Tapanuli Tengah dan Sibolga,” tegas Bobby. Posko komando utama di Tarutung, Tapanuli Utara, telah mendistribusikan bantuan logistik berupa 5 ton beras, 2.000 paket mi instan, 500 tenda darurat, dan peralatan medis ke titik-titik pengungsian.

BNPB mengaktifkan sistem peringatan dini berbasis komunitas di wilayah rawan bencana. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. “Masyarakat di zona bahaya disarankan segera mengungsi jika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung lebih dari satu jam, mengingat kondisi tanah sudah jenuh,” pungkas Abdul. Pemulihan jaringan telekomunikasi yang terputus di beberapa wilayah masih menjadi prioritas bersama Kementerian Kominfo.

EDITOR

Iklan Promo
Iklan Promo

Iklan Harian Radar!

Dapatkan penawaran menarik hanya untuk Anda. Jangan lewatkan kesempatan ini!

Hubungi Agen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

↑ Top